Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Strategi Produksi Sejarah Alternatif: Catatan dari Lasem, Pesisir Utara Jawa

📅 Jumat, 01 Agu 2025, 12:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Strategi membaca bersama sejarah seperti ini bukan hanya sebagai bentuk upaya pelestarian budaya, tapi juga perlawanan ilmiah terhadap narasi tunggal pemerintah.

2. Merekam

Sejarah lisan memungkinkan kita menangkap hal-hal yang sering luput dalam teks tertulis, khususnya suara-suara kelompok yang selama ini terpinggirkan dari narasi formal, seperti pengalaman komunitas lokal atau individu non-elit.

Di Desa Dasun, wilayah pesisir Lasem misalnya, metode ini dipakai untuk merekam kisah-kisah sejarah lokal serta pengetahuan budaya maritim yang erat dengan keseharian masyarakatnya. Hasil pengumpulan informasi ini disebarkan lewat kanal Youtube, seperti #PodcastPerpusDasun yang menampilkan tokoh masyarakat, mahasiswa, dan ahli sebagai narasumber.

Selain dalam bentuk video, sejarah lisan desa Dasun juga dituliskan kembali. Menggunakan wawancara, observasi lapangan, dan sumber literatur terdahulu, warga Dasun berhasil menerbitkan dua judul buku: Dasun: Jejak Langkah dan Visi Kemajuannya dan Pemajuan Kebudayaan Desa Dasun.

3. Menjelajah

Menelusuri sejarah tak hanya bisa dilakukan lewat sumber literatur maupun lisan, tapi juga dengan menjelajahi situs-situs lokal secara langsung.

Komunitas Balung Watu Lasem, misalnya, rajin berkumpul untuk melakukan tur ke situs-situs lokal seperti makam, goa, hutan, hingga gunung. Mereka berdialog dengan warga lokal sambil mendokumentasikan perjalanan lewat foto dan video yang kemudian dibagikan ke publik lewat media sosial dan grup-grup Whatsapp.

Pendekatan semacam ini sejalan dengan metode walking as a research practice (berjalan sebagai praktik penelitian), yang menekankan pentingnya pengalaman langsung seperti berjalan dan berkunjung ke ‘lapangan’ dalam proses pencarian pengetahuan.

4. Mengoleksi

Koleksilah sesuatu agar hati merasa bahagia,” tulis Afnantio Soesantio, seorang filatelis yang merupakan tokoh kunci di balik berdirinya Museum Nyah Lasem.

Berawal dari perangko, memorabilia keluarga, dan surat-surat bersejarah, koleksi di museum ini terus bertumbuh secara organik. Om Santio, panggilan akrabnya, tak hanya menyimpan benda-benda tersebut, tapi juga menceritakan kisah setiap koleksi tersebut kepada setiap pengunjung yang singgah di Lasem.

Inisiatif ini kemudian diteruskan oleh para relawan Yayasan Lasem Heritage yang membantu menghubungkan koleksi ke konteks sejarah kota yang lebih luas melalui pameran, diskusi, hingga sanggar.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Olahraga
Manchester United Siap Pinj...

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.