Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Strategi Produksi Sejarah Alternatif: Catatan dari Lasem, Pesisir Utara Jawa

📅 Jumat, 01 Agu 2025, 12:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Sejumlah arsip yang diteliti para relawan mengungkap betapa luasnya jaringan dagang Batik Lasem di awal abad 20 dan kemudian dinobatkan sebagai memori kolektif bangsa oleh ANRI.

Usaha-usaha seperti ini menghimpun data-data baru dan memperkaya narasi yang sebelumnya satu arah. Keberadaan museum ini juga mendorong dialog secara langsung dengan pengunjung.

5. Menafsirkan ulang

Agar sejarah tetap relevan, terutama bagi generasi muda, komunitas lokal memilih pendekatan artistik.

Praktik ini dilakukan oleh kolektif Noktaloka, komunitas anak-anak muda asal Lasem dan Rembang yang aktif melakukan sketchwalk (membuat sketsa sembari berjalan-jalan).

Mereka menyusuri kawasan suburban Lasem dengan pena dan cat air, menangkap jejak budaya dan lanskap sejarah dalam bentuk sketsa. Hasilnya bukan sekadar dokumentasi visual, tapi juga interpretasi kreatif atas ruang dan identitas Lasem. Sejumlah karya mereka kini dipamerkan di Museum Nyah Lasem, menandai bagaimana praktik seni gambar bisa menjadi jembatan antara memori dan publik masa kini.

Upaya serupa juga tampak dalam karya Divasio Suryawan, seniman muda asal Lasem. Karya-karyanya tidak hanya mengangkat Lasem sebagai tema, tetapi menjadikan arsip sejarah dan budaya, termasuk arsip kuno, sebagai sumber utama inspirasi.

Ia membaca arsip-arsip tersebut melalui proses diskusi kolektif dengan peneliti dan arsiparis lain, lalu merumuskannya ke dalam bentuk seni visual yang kritis dan kontemporer. Dengan cara ini, masa lalu tidak lagi sekadar diromantisasi, namun diolah menjadi ruang refleksi atas kondisi sosial Lasem hari ini.

Patut ditiru

Kelima strategi di atas menekankan pentingnya semangat kolektif 
dalam menjaga dan mewariskan pengetahuan lokal. Di tengah represi yang cenderung kerap berulang, pemeliharaan pengetahuan di Lasem bukan sekadar giat budaya, melainkan bentuk perlawanan terhadap hegemoni narasi tunggal yang dibangun negara.

Belakangan, kita mulai melihat gejala serupa muncul seperti apa yang dialami Lasem puluhan tahun yang lalu: penulisan ulang sejarah, pengaburan pengalaman kolektif, hingga penghapusan perlahan narasi-narasi yang tak sesuai dengan “versi resmi” pemerintah. Maka, strategi akar rumput yang dilakukan di Lasem bukan hanya inspiratif, tapi mendesak untuk direplikasi.The Conversation

Virliany Rizqia Putri, PhD Candidate, Kanazawa University (????) dan Feysa Poetry, PhD Candidate in Architectural Practice, UCL

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Daerah
Jarak Pandang Terbatas, Ban...
Daerah
Pemkab Pasaman Barat Minta ...
Megapolitan
Tangerang Bergetar Dengar K...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.