Trump Ancam Rusia, Harga Minyak Dunia Meledak! Pasar Panas, Eropa Siap Gelontorkan Miliaran Dolar!
📅 Kamis, 31 Jul 2025, 15:15 WIB | Oleh: Alfina Febriyana
Doc: Freepik
JAKARTA - Dunia minyak kembali bergolak! Harga minyak mentah melonjak tajam lebih dari 3 persen, didorong aksi berani Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan menjatuhkan sanksi besar-besaran terhadap Rusia bila tidak ada kemajuan nyata dalam mengakhiri perang di Ukraina.
Berdasarkan laporan Reuters, pada Rabu (30/7/2025), harga minyak Brent untuk kontrak Oktober melesat US$2,47 atau 3,53 persen hingga mencapai US$72,51 per barel, level tertinggi sejak (20/6/2025).
Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) juga terkerek naik US$2,50 atau 3,75 persen, hingga bertengger di US$69,21 per barel.
Pemicunya? Trump tak lagi bermain kata-kata. Ia memberi tenggat 10 hari kepada Moskow untuk menunjukkan langkah konkret menyudahi agresinya di Ukraina, atau siap-siap disapu sanksi lanjutan.
“AS meningkatkan tekanannya dan negara-negara sekutu mulai menunjukkan tanda akan ikut bergabung,” ujar Phil Flynn, analis dari Price Futures Group.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tak berhenti di Rusia, Trump juga menyasar China. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengungkapkan sudah memperingatkan Beijing jika terus membeli minyak dari Rusia, China akan dikenakan tarif tinggi.
Ini bagian dari strategi “sanksi sekunder” yang mulai digunakan AS untuk menekan aliansi energi Rusia–China.
Di sisi lain, sinyal damai dari perundingan dagang AS-China serta tercapainya kesepakatan dagang AS-Uni Eropa turut mendongkrak optimisme pasar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Walau Uni Eropa masih dikenai tarif 15 persen atas beberapa produknya, potensi perang dagang besar berhasil dihindari.
Tak hanya itu, Eropa sepakat untuk membeli energi dari AS senilai US$750 miliar dalam tiga tahun mendatang dan berencana mengucurkan investasi US$600 miliar ke AS selama masa jabatan Trump.
Namun, banyak analis menganggap target ini ambisius bahkan nyaris mustahil dicapai.
Di tengah ketegangan geopolitik yang membara, para investor juga menanti hasil keputusan kebijakan The Federal Reserve (The Fed) yang sedang berlangsung.
Meski suku bunga diprediksi tetap, analis memprediksi sinyal dovish akan dikirim menyusul melambatnya laju inflasi.
“Dengan tekanan inflasi yang mulai longgar, The Fed mungkin membuka peluang untuk pelonggaran moneter,” ujar Priyanka Sachdeva dari Phillip Nova.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!