Perjuangan Elpiji 12 Kg: Si Merah Muda Menembus Pedalaman Mentawai
📅 Senin, 21 Jul 2025, 18:40 WIB | Oleh: Tim PenulisMenurut dia, warga memilih memakai gas untuk memasak sehari-hari karena lebih hemat dibandingkan menggunakan minyak tanah yang juga ia jual di warungnya Rp10 ribu per liter.
Hal yang sama dirasakan warga Dusun Kinikdog, Marius Sabagalet, yang baru saja memakai LPG merah muda itu sebulan lalu.
"Kalau pakai kompor minyak tanah lebih lama menunggu, tidak efisien. Kalau pakai gas lebih cepat masaknya," kata Marius saat ditemui sedang memasak air di rumah sosial yang ditempatinya.
Marius membeli gas elpiji di warung kelontong di Desa Rogdog, kemudian membawanya menggunakan sampan ke rumah dengan harga Rp300 ribu per tabung.
Sebaiknya Anda baca juga:
Elpiji 12 kilogram dengan harga yang sangat mahal itu idealnya dipakai oleh pengusaha, restoran, dan industri lain yang membutuhkan. Masyarakat umum, khususnya di pedalaman, cukup menggunakan gas melon tiga kilogram.
Namun di Desa Matotonan, desa daerah 3T itu warga menembus batasan itu, karena di sana belum tersentuh program konversi minyak tanah ke gas.Gas tiga kilogram menjadi barang langka di sana, bahkan tidak ada sama sekali. Kalaupun ada, biasanya dibeli dari Padang dengan harga yang mahal. Dengan gas 12 kilogram, memasak lebih tahan lama dan tidak perlu bolak-balik mengisi ulang.
Menunggu program konversi
Sebaiknya Anda baca juga:
Penjual gas di Muara Siberut, Musrizal, menyiapkan motor bututnya untuk mengantar pesanan Bright Gas ke pedalaman di Desa Ugai. Perjalanan ke sana membutuhkan waktu paling lama dua jam melewati Jalan Trans Mentawai.
Kondisi jalan sekitar lima kilometer rusak berat dengan jalan tanah yang bergelombang, sisanya jalan rabat beton dan kerikil hingga ke Desa Ugai. Jika ingin melanjutkan ke Matotonan, perjalanan bisa disambung dengan pompong atau sampan panjang bermesin dompeng sekitar 2 jam menyusuri sungai Sarereiket.
Meskipun akses sulit, Musrizal mengaku pelanggannya terus meningkat dari berbagai desa di Kecamatan Siberut Selatan, bahkan juga ada dari kecamatan lain dan pulau-pulau. Tokonya adalah satu dari tiga tempat yang menjual gas elpiji di sana.
"Saya membeli gas ini langsung dari agennya yang datang menggunakan kapal dari Padang. Pembeli kami sudah 50-an orang di sini, kalau mau diantar ke pedalaman tambah ongkos kirimnya Rp50 ribu," kata Musrizal.
Di luar ongkos kirim, ia menjual gas isi ulang 12 kilogram itu Rp295 ribu per tabung, sedangkan untuk pembelian pertama tabung gas dengan isinya Rp700 ribu per tabung.
Harga gas yang mahal tidak menyurutkan warga Siberut untuk memakainya, karena itu lambat-laun jumlah pelanggan terus meningkat. Tapi ia juga berharap agar gas tiga kilogram dapat masuk sehingga semua kalangan bisa menikmatinya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!