Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Demi Logam Tanah Jarang, Jepang Siap Terjun ke Penambangan Laut Dalam

📅 Minggu, 20 Jul 2025, 07:17 WIB | Oleh:

Rencana Jepang saat ini berada di dalam zona ekonomi eksklusifnya sendiri. Jadi, pengawasan dari International Seabed Authority/ISA (Otoritas Dasar Laut Internasional) tidak berlaku. Namun, tindakannya telah menjadi preseden. Jika Tokyo berhasil, hal itu dapat membuka pintu bagi negara-negara lain — dan perusahaan-perusahaan — untuk terjun bebas ke jurang.

The Metals Company, perusahaan yang berbasis di Kanada, saat ini sedang mendorong penerbitan lisensi untuk menambang nodul polimetalik di CCZ pada tahun 2026. Perusahaan tersebut bahkan telah mengindikasikan bahwa mereka dapat melanjutkan penambangan tanpa persetujuan internasional, dengan mengutip undang-undang AS yang tidak jelas dari tahun 1980-an.

Titik balik untuk situasi yang kompleks

Yang membuat situasi ini begitu rumit adalah ikatan ganda transisi hijau. Sekalipun kita ingin memprioritaskan lingkungan (yang merupakan 'jika' besar di sini), kita membutuhkan logam tanah jarang. Logam-logam ini menggerakkan mobil listrik, turbin angin, panel surya, dan baterai generasi mendatang. Namun, perlombaan untuk mengamankan sumber daya tersebut justru mengancam ekosistem yang seharusnya dilindungi oleh solusi iklim.

Berbeda dengan penambangan darat yang diatur dan dipantau secara ketat (meskipun belum sempurna), penambangan laut dalam di perairan internasional beroperasi dalam kekosongan hukum. ISA, sebuah badan yang berafiliasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa, masih menyelesaikan aturan tentang bagaimana penambangan semacam itu seharusnya dilakukan. Dan aturan-aturan ini telah tertunda selama bertahun-tahun.

Di atas semua ini, daya tarik kekayaan yang belum dimanfaatkan di dasar laut semakin tinggi. Tanpa populasi penduduk asli yang tergusur dan deposit mineral yang tampaknya tak terbatas, laut dalam dibingkai sebagai batas terakhir sumber daya "bersih". Namun, ini jauh dari praktik yang "bersih".

Uji coba Jepang tahun 2026 akan diawasi ketat — tidak hanya oleh perusahaan pertambangan dan insinyur, tetapi juga oleh ahli kelautan, ahli etika, dan aktivis iklim. Karena ketika kita menambang dasar laut, kita tidak hanya mengeruk lumpur, kita juga menghapus halaman dari lingkungan Bumi. Dan kita bahkan tidak tahu apa yang kita hilangkan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

1.5 jam yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.