Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

UIN Bukittinggi-BKSDA dukung pupuk herdanic untuk ketahanan pangan

📅 Jumat, 11 Jul 2025, 19:35 WIB | Oleh: Tim Penulis
UIN Bukittinggi-BKSDA dukung pupuk herdanic untuk ketahanan pangan Doc: Antara Foto
Ket. UIN Bukittinggi dan BKSDA Sumbar meninjau lokasi Taman Herdanic di Gadut, Agam.

Universitas Islam Negeri (UIN) Bukittinggi dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah 1 Sumatera Barat mendukung produk lokal berupa pupuk cair herdanic dalam program ketahanan pangan nasional.

"UIN Bukittinggi membuka Fakultas Saintek atau Fakultas Pertanian Kehutanan. Program ketahanan pangan kita dukung penuh" kata Wakil Rektor II UIN Bukittinggi Iiz Izzudin, Jumat.

Menurut dia herdanic merupakan pupuk organik cair asal Sumbar yang dinilai bisa menjadi solusi untuk meningkatkan kesuburan tanah dan tanaman.

Untuk melihat proses penggunaan herdanic dalam program demplot padi organik serta edukasi herdanic, tim UIN Bukittinggi dan BKSDA Wilayah 1 Sumbar secara bersamaan mendatangi Taman Herdanic di kawasan Gadut, Agam.

Iiz Izzudin mengatakan, UIN Bukittinggi akan melakukan perjanjian kerja sama dengan tim herdanic yang nantinya diharapkan program-program UIN dalam bidang pendidikan dapat saling mengisi antara teori dan praktiknya.

Sementara itu, Wakil Dekan 2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Bukittinggi Ali Rahman menambahkan salah satu program dari universitas adalah memberikan penyadaran kepada masyarakat akan pentingnya hal yang bersifat organik.

"Kembali ke alam, sehingga nanti akan terjadi penyadaran-penyadaran, terutama melalui mahasiswa. Mahasiswa kita yang 13.000 orang itu kita harapkan nanti bisa mengembangkan atau sekurangnya, memberikan penyadaran kepada masyarakat akan pentingnya padi organik," ujar Ali Rahman.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Sumbar Antonius Vevri menjelaskan, fungsi dari herdanic ini adalah untuk mengembalikan porositas dari tanah yang terdiri dari bakteri-bakteri yang ada di dalam pupuk majemuk ini.

"Sebagaimana kita ketahui bahwasanya selama ini kita menggunakan pupuk kimia yang bisa menyebabkan asam pada tanah, sehingga porositas tanah akan menjadi lebih padat dan semakin lama sawah-sawah kita di Indonesia ini menjadi lebih dangkal," kata Antonius Vevri.

Menurut dia, dengan porositas yang dangkal, termasuk juga mikroorganisme yang ada di dalamnya akan menjadi mati.

"Kemudian juga cacing juga akan mati karena di media kimia tersebut, tanah menjadi asam," katanya.

Dari faktor lingkungan, kata dia, juga bisa disorot penggunaan zat kimia atau anorganik di sebuah lahan.

Pada saat terjadi hujan akan mengalirkan residu-residu kimia yang tersisa pada tanah tersebut.

"Mungkin ke kolam mungkin juga ke selokan dan mungkin juga nanti akan sampai ke perumahan dan macam macam. Nah di situ juga ada ikan dan segala macam sehingga akan bisa menyebabkan penyakit," kata Antonius.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Jepang akan Menaikan Biaya Visa Lima Kali Lipat Mulai 1 Juli

28 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Jepang akan Menaikan Biaya ...
Rona
Batasan Mengonsumsi Kafein ...
Waspada! Prakiraan Cuaca BMKG Ada Potensi Hujan Pemicu Banjir dan Longsor di Sumut Rabu Besok

Waspada! Prakiraan Cuaca BMKG Ada Potensi Hujan Pemicu Banjir dan Longsor di Sumut Rabu Besok

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.