Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Data Terkini: 70% Penduduk Solok Selatan Hidup dari Hutan

📅 Rabu, 09 Jul 2025, 20:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Data Terkini: 70% Penduduk Solok Selatan Hidup dari Hutan Doc: Antara Foto
Ket. Seorang warga mendayung rakit di kawasan perhutanan sosial Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat

Pemerintah Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat (Sumbar) mencatat sekitar 70 persen masyarakat di daerah itu menggantungkan hidup dari kawasan hutan, sehingga diharapkan adanya kebijakan yang berpihak pada program perhutanan sosial.

"Sebanyak 60 persen wilayah Solok Selatan adalah kawasan hutan dan 70 persen masyarakat menggantungkan hidup dari hutan. Maka, keberpihakan terhadap program perhutanan sosial adalah keniscayaan," kata Sekretaris Daerah Kabupaten Solok Selatan Syamsurizaldi di Padang, Rabu.

Syamsurizaldi menegaskan bahwa perhutanan sosial sudah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kabupaten Solok Selatan 2025 hingga 2045, sebagai bagian dari strategi jangka panjang mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Apalagi, kelompok masyarakat di Kabupaten Solok Selatan yang telah memperoleh izin kelola hutan bisa membuktikan pendekatan berbasis kearifan lokal mampu menjaga ekosistem hutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga.

Senada dengan itu, Pelaksana Harian Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Solok Selatan Zilhamri menjelaskan bahwa kabupaten tersebut saat ini memiliki 17 Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) dengan luas 36.983 Hektare.

Dari KPS tersebut, sudah ada sekitar 33 unit Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) yang bergerak dalam berbagai bidang usaha di antaranya kompos, kopi, beras organik, madu dan jasa lingkungan.

"KUPS dapat menjadi embrio Usaha Mikro, Kecil dan Menengah berbasis perhutanan sosial yang terintegrasi dengan program pembangunan kabupaten sekaligus menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan," ujar dia.

Sebagai contoh, KUPS Kompos dari Nagari Pakan Rabaa yang mampu memproduksi lima ton pupuk kompos per bulan. Kemudian, KUPS Kopi Marola Mutiara Suliti sudah menghasilkan 100 kilogram kopi robusta per bulan, dan mulai ekspansi ke jaringan pasar serta KUPS Beras Organik Simancuang memasarkan satu ton beras organik setiap tahun dengan praktik pertanian ramah lingkungan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Nasional
Jepang Kirim Chinook Bantu ...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.