Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pemerkosaan Massal Mei 1998: Narasi Sejarah yang Terbelah

📅 Selasa, 08 Jul 2025, 15:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Masyarakat non-Tionghoa lebih menganggap kerusuhan terjadi karena faktor eksternal: krisis ekonomi dan ketidakpuasan atas pemerintahan Suharto. Kondisi tersebut diperburuk dengan kemarahan sebagian masyarakat terhadap aparat keamanan yang sering memperlakukan mereka secara tidak adil.

Memicu perbedaan lainnya

Masyarakat Tionghoa dan non-Tionghoa juga berbeda persepsi mengenai jumlah korban Kerusuhan Mei 1998.

Masyarakat Tionghoa meyakini fakta jumlah korban dari kelompok mereka jauh lebih besar dibanding kelompok lain.

Sementara itu, sebagian masyarakat non-Tionghoa mempercayai bahwa korban dari masyarakat Tionghoa memang lebih banyak dari masyarakat non-Tionghoa. Namun, korban dari masyarakat non-Tionghoa tidak kalah banyak.

Kondisi ini mempertegas bagaimana posisi etnis dalam konflik memengaruhi pembentukan makna atas peristiwa sejarah. Identitas sebagai korban atau pelaku secara kolektif turut membentuk narasi dominan di ruang publik.

Beda latar belakang, beda persepsi

Perbedaan persepsi ini mencerminkan bias kognitif bernama attributional error. Bias ini membuat individu atau kelompok cenderung menilai suatu perilaku dengan kacamata identitas, pengalaman, dan kepentingan kelompok yang membentuk mereka.

Masyarakat non-Tionghoa cenderung memaknai tragedi Mei 1998 sebagai akibat dari situasi eksternal, seperti krisis ekonomi atau kekacauan politik. Penekanan mereka ada pada situasi sebagai penyebab tragedi.

Kami menilai pola ini mencerminkan kecenderungan atribusi kelompok—yakni saat kelompok yang diasosiasikan sebagai pelaku lebih mudah mengaitkan peristiwa dengan faktor di luar diri mereka.

Sebaliknya, masyarakat Tionghoa sebagai kelompok yang mengalami kekerasan secara langsung cenderung menunjukkan respons yang lebih emosional terhadap pemerkosaan massal dan kerusuhan. Kami memandang bahwa hal ini selaras dengan kecenderungan kelompok korban untuk mengatribusikan penyebab peristiwa secara internal, termasuk pada niat dan tanggung jawab moral para pelaku.

Pertanyaan sebenarnya

Temuan riset saya dapat menjadi bekal kita untuk memantik pertanyaan krusial: mungkinkah masyarakat Indonesia bisa benar-benar sepaham mengenai peristiwa kelam seperti pemerkosaan massal Mei 1998?

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Profil Empat Nama Pemain Tambahan Timnas yang Akan Direkrut untuk Piala Asia 2027
    Timnas bakal lebih tajam dengan tambahan pemain ini ...
  • Industri Tekstil RI Kalah Canggih dari China, Menperin Sarmuji Bongkar Biang Keroknya
    Langkah Kemenperin memprioritaskan restrukturisasi mesin yang telah berusia ...
  • Pasar Makin Prospektif, Kemenperin Pacu Industri Mainan Tembus Pasar Global
    Pencapaian ekspor mainan yang menembus USD 351,8 juta ...
  • Industri Mesin Diperkuat, Indonesia Tak Mau Terus Bergantung Impor
    Langkah strategis Ditjen ILMATE Kemenperin yang disampaikan oleh ...
  • Kemenperin Catat Sektor Industri Mainan Indonesia Serap 15.663 Naker
    Pencapaian surplus ekspor industri mainan nasional yang tembus ...

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Akui Hubungan Kemitraan ‎

31 menit yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
UU Pelindungan Ketenagakerj...
Advertisement
Profil Empat Nama Pemain Tambahan Timnas yang Akan Direkrut untuk Piala Asia 2027

Profil Empat Nama Pemain Tambahan Timnas yang Akan Direkrut untuk Piala Asia 2027

07 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.