The Fed Bersiap Mode Longgar, BI Pasang Kuda-kuda Hadapi Imbasnya
📅 Jumat, 04 Jul 2025, 20:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Bayu Saputra
JAKARTA - Pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed bisa berdampak signifikan pada perekonomian global dan domestik.
Pemangkasan ini biasanya dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menurunkan biaya pinjaman, yang pada gilirannya dapat merangsang investasi dan pengeluaran konsumen.
Namun, dampaknya bisa kompleks dan tergantung pada berbagai faktor lain seperti inflasi dan kepercayaan pasar.
Bank Indonesia (BI) memproyeksikan suku bunga The Fed akan turun dua kali pada 2025, masing-masing sebesar 50 basis point (bps), ke level 4 persen (baseline), dan berlanjut ke level 3,5 persen pada akhir 2026.
“Inflasi di Amerika turunannya akan lebih lambat. Diperkirakan suku bunga Amerika akan turun dari 4 persen pada tahun ini menjadi 3,5 persen pada tahun 2026,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, dikutip Jumat (4/7).
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, defisit fiskal Amerika Serikat (AS) diperkirakan membengkak dari 6,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini menjadi 7 persen PDB pada 2026 sehingga mendorong yield obligasi pemerintah AS tetap tinggi.
Pada triwulan I 2026, yield US Treasury 10 tahun diprakirakan mencapai 4,7 persen dan tetap berada di level tinggi setelahnya.
“Tentu saja ini nanti akan berpengaruh ke yield SBN dan bagaimana kaitannya dengan pembiayaan fiskal maupun juga dengan stabilitas sistem keuangan di Indonesia,” kata Perry.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari sisi nilai tukar, Perry mencatat bahwa akhir-akhir ini ada kecenderungan dolar AS tidak sekuat seperti sebelumnya. Persepsi pasar keuangan global mulai berubah, di mana aliran aset yang sebelumnya berbondong-bondong masuk ke AS kini beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti emas, serta ke aset keuangan di emerging market.
“Ini tentu saja perlu kita waspadai karena memang volatilitas inflow-outflow portofolio maupun volatilitas nilai tukar sangat rentan pada pergerakan-pergerakan ketidakpastian global maupun pada geopolitik dunia,” ujar dia.
Perry mengingatkan, kondisi global dipenuhi ketidakpastian seperti didorong oleh faktor kebijakan tarif dari Amerika Serikat (AS) dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pada 2026, pertumbuhan ekonomi global diprakirakan stagnan di level 3 persen. Terkait hal ini, BI menyoroti kecenderungan pertumbuhan ekonomi di negara-negara mitra dagang utama Indonesia yang menurun.
Pertumbuhan ekonomi AS diprakirakan sekitar 2,1 persen pada tahun ini dan akan turun menjadi 1,8 persen pada 2026, bahkan dengan risiko resesi.
Ekonomi Eropa dan Jepang juga berada dalam kondisi yang masih tekanan. Sementara ekonomi Tiongkok, sebagai negara mitra dagang utama kedua Indonesia, juga melambat yakni diprakirakan 4,3 persen pada 2025 menjadi 4,1 persen pada 2026.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!