Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Meski Ada Banyak Perang, Pemerintah Diharapkan Konsisten Cari Pasar Perdagangan Baru

📅 Jumat, 04 Jul 2025, 12:15 WIB | Oleh: Tim Penulis

Di sinilah daya saing Indonesia kembali diuji. Negara pesaing seperti Cina dan Vietnam telah mengembangkan sistem produksi cepat (fast response manufacturing) berbasis teknologi dan data pasar. Sementara itu, industri TPT Indonesia masih terkendala oleh struktur produksi yang lambat, ketergantungan bahan baku impor, dan minimnya integrasi hulu-hilir.

Namun, Indonesia tidak bisa terus bertumpu pada narasi ketergantungan dan resiliensi semu. Saatnya mengambil posisi lebih strategis. Ketika pasar global terus berubah dan negara mitra utama mulai membatasi ruang ekspor, pilihan Indonesia bukan lagi sekadar perbaikan hubungan atau menunggu pergeseran kebijakan negara lain.

Yang mendesak adalah memperkuat basis industri nasional dari hulu ke hilir. Ini mencakup investasi pada substitusi impor, insentif teknologi berbasis kebutuhan industri kecil menengah dan ekspor, serta diplomasi dagang yang menyasar negara-negara dengan preferensi produk bernilai tambah dan berkelanjutan.

Di tengah ketidakpastian global, yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan bertahan, tetapi keberanian untuk menentukan arah sendiri. Sayangnya, hingga kini keberanian itu belum sepenuhnya tumbuh. Agenda substitusi impor kerap terganjal kepentingan jangka pendek; investasi industri lokal masih kalah atraktif dibanding orientasi ekstraktif; dan diplomasi dagang cenderung reaktif, bukan proaktif.

Dalam situasi ini, pertanyaannya bukan lagi sekadar “mampukah kita menggambar peta baru?”, tetapi “apakah kita sungguh-sungguh ingin menggambarnya?”. Sebab, merancang masa depan industri bukan sekadar soal menyesuaikan diri terhadap tren global, tetapi soal membangun kehendak politik, visi industri, dan keberpihakan terhadap ekosistem lokal.

Jika keinginan itu tak pernah dirumuskan secara kolektif, maka posisi Indonesia akan terus berada dalam lingkaran ‘respon atas tekanan’. Sangat berat menjadi negara yang menentukan lintasan. Dalam lanskap ekonomi dunia yang bergerak cepat, penuh ketidakpastian, bahkan rawan krisis, bukan negara terbesar yang bertahan, melainkan negara yang paling cepat mengambil keputusan dan berani keluar dari pola lama.The Conversation

Intan Maria Lewiayu Vierke, Doktor Manajemen Bisnis SB IPB, IPB University

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Menkeu Ungkap Banyak Rumor ...

Wali Kota Bogor Aktivasi Museum Pajajaran

30 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Megapolitan
Wali Kota Bogor Aktivasi Mu...
Nasional
Mantan Wamenaker Noel Divon...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.