1 dari 3 Kaum Muda Rentan Kena Gangguan Mental, Tapi Kenapa Sedikit yang ke Psikolog?
📅 Senin, 30 Jun 2025, 13:35 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation
Hasna Fikriya, Universitas Gadjah Mada dan Firdaus Hafidz, Universitas Gadjah Mada
Merasakan sedih terus-menerus hingga kehilangan minat terhadap aktivitas yang disukai merupakan beberapa tanda gangguan mental. Kondisi ini rentan dialami kaum muda Milenial maupun Gen Z.
Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional (I-NAMHS) menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia usia 11-17 tahun (sekitar 15,5 juta orang) mengalami gangguan mental dalam kurun 2021-2022. Masalah mental paling umum yang dialami kaum muda adalah kecemasan, gangguan perhatian, hiperaktivitas, dan depresi.
Sayangnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan hanya 10,4% kaum muda yang mendapatkan pengobatan formal. Ini menunjukkan lebarnya kesenjangan antara kebutuhan psikologis kaum muda dengan jumlah mereka yang mengakses layanan kesehatan mental.
Sebaiknya Anda baca juga:
Enggan ke psikolog karena skeptis dan malu
Kondisi mental kaum muda rentan terganggu akibat berbagai perubahan biologis dan psikososial yang signifikan, misalnya pubertas, kemampuan berpikir abstrak, pembentukan identitas diri, hingga tuntutan orang tua agar mereka hidup mandiri.
Selain itu, kondisi mental kaum muda kian rentan terganggu akibat paparan media sosial, bullying (perundungan), kekerasan seksual, pola asuh keras, hingga kesulitan ekonomi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meskipun sangat rentan mengalami gangguan mental, banyak kaum muda enggan mengakses layanan psikologis akibat sejumlah hal berikut:
1. Minim literasi kesehatan mental
Rasa skeptis terhadap tenaga profesional menghambat kaum muda mencari pengetahuan memadai tentang penanganan gangguan mental.
Rasa skeptis ini membuat mereka cenderung merasa lebih nyaman untuk menyelesaikan masalah mental sendiri ataupun dengan bantuan orang terdekat (seperti teman dan keluarga).
Media sosial memperburuk kecenderungan kaum muda dalam mengenali kondisi mentalnya. Studi dalam Qualitative Health Research mengungkapkan bahwa penggunaan media sosial yang intensif bisa meningkatkan praktik self diagnose (diagnosis sendiri) yang membuat kaum muda kian enggan ke profesional.
2. Rasa malu akibat stereotip negatif
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!