Mengapa dan Sejarah Warga Tionghoa Tangerang Disebut Cina Benteng
📅 Selasa, 24 Jun 2025, 14:04 WIB | Oleh: Aloysius WidiyatmakaDiresmikan pada 11 November 2011, bangunan ini masih menjaga keaslian struktur mulai dari lantai yang berasal dari terakota, kayu hingga plafon sehingga saat tiba di museum ini, pengunjung akan serasa tenggelam menjelajah peninggalan masa lampau.
Memasuki area lantai satu, pengunjung akan melihat hiasan lung atau naga berwarna emas pada sisi kiri serta tulisan mandarin dengan ukuran yang besar dengan warna emas pada bagian tengah tembok, juga lukisan-lukisan menawan yang memanjakan mata.
Beranjak ke lantai dua, menaiki tangga kayu yang cukup menanjak, koleksi berupa fengshui bakal menyapa, alat ini konon berguna untuk menentukan arah dalam pembangunan rumah, kemudian beragam timbangan yang salah satunya digunakan untuk menimbang opium.
Museum ini juga diperkaya dengan sejumlah furnitur khas Tiongkok berbahan kayu serta hiasan porselen, patung dewa-dewa, buku terjemahan, dan ranjang pengantin khas Tiongkok. Ada juga kebaya encim yang didonasikan oleh masyarakat keturunan Tionghoa. Kemudian ada topi petani khas Tiongkok yang berbentuk panjang ke belakang untuk melindungi tubuh bagian belakang dari paparan sinar matahari.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menariknya lagi,sebuah ukiran yang tersemat pada salah bagian museum yang dekat dengan atap. Konon, ukiran yang awalnya sebuah bongkahan batu besar ini masih asli dengan warna yang belum memudar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!