Risiko Resesi AS Berkurang, The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga
📅 Selasa, 17 Jun 2025, 01:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA - Para pelaku pasar menantikan proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) dalam Federal Open Market Committee (FOMC) Juni 2025 dengan ekspektasi Fed Funds Rate (FFR) tetap di kisaran 4,25-4,50 persen.
Head of Macroeconomic and Financial Market Research PermataBank Faisal Rachman mengatakan tekanan perang dagang pada ekonomi AS kemungkinan akan berkurang sejalan dengan perkembangan positif terkait hasil negosiasi dagang antara AS dan mitra dagangnya.
Dengan demikian, risiko resesi di AS akan berkurang yang pada ujungnya menurunkan kebutuhan untuk memotong FFR secara agresif meski tekanan inflasi di AS juga ikut berkurang.
“Market melihat The Fed masih akan mempertahankan proyeksinya untuk pemotongan FFR tahun ini sebesar 50 bps,” kata Faisal.
Terkait perang antara Israel-Iran, Faisal menambahkan bahwa ketidakpastian di Timur Tengah yang meningkat baru-baru ini akan menimbulkan risiko pada inflasi terutama dari sisi inflasi energi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dia memperkirakan eskalasi di Timur Tengah akan mereda pada jangka menengah, di tengah keputusan AS untuk tidak ikut campur secara langsung dan mencari solusi de-eskalasi konflik Israel-Iran. Hal ini tentu akan berdampak baik pada harga minyak.
Untuk kebijakan moneter bank sentral lainnya, PermataBank melihat Bank Indonesia (BI), Bank of Japan (BoJ), Bank of England (BoE), dan People's Bank of China (PBoC) juga akan cenderung mempertahankan suku bunga kebijakannya di tengah ketidakpastian global yang sedang meningkat.
“Kami melihat banyak bank sentral yang akan lebih melakukan wait and see di tengah kembali naiknya gejolak ketidakpastian global ini,” katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sedangkan dari sisi domestik, PermataBank melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini akan berada di bawah 5 persen.
Dengan masih berlangsungnya ketidakpastian global, maka risk off sentiment pada kegiatan investasi dan ekspansi sektor riil akan terus berlanjut yang pada akhirnya akan menekan pertumbuhan ekonomi.
“Jika sentimen perang dagang dan geopolitik dapat segera berakhir, maka ada peluang untuk ekonomi Indonesia dapat terakselerasi dan kembali ke kisaran 5 persen,” kata Faisal.
Tensi Perang Tarif
Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan, perekonomian dunia pada kuartal kedua tahun 2025 diperkirakan akan menurun ketidakpastiannya berkaitan mulai meredanya potensi perang tarif antara AS dengan mitra dagangnya.
“Melunaknya AS menunjukkan tarif akan menurun,"papar Suhartoko.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!