Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bauksit Bisa Bantu Indonesia Lepas dari Middle Income Trap

📅 Senin, 02 Mar 2026, 12:38 WIB | Oleh:
  Bauksit Bisa Bantu Indonesia Lepas dari Middle Income Trap Doc: ist
Ket. bantu lepas jebakan pendapatan menengah

JAKARTA -  Upaya lepas dari jebakan pendapatan menengah Indonesia bisa dibantu bila sukses hilirisasi bauksit. NEXT Indonesia Center menilai hilirisasi bauksit menjadi alumina dan aluminium dapat meningkatkan nilai tambah hingga puluhan kali lipat serta menjadi kunci Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.

“Hilirisasi merupakan jalan keluar nyata bagi Indonesia untuk memperkuat struktur industri nasional dan menghentikan kebiasaan menjual bauksit secara mentah,” kata Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center Christiantoko berdasarkan keterangannya, Jakarta, Senin.

Ia menjelaskan Indonesia memiliki cadangan bauksit sekitar 2,9 miliar ton, namun selama ini lebih banyak menjualnya dalam bentuk mentah. Berdasarkan analisis NEXT Indonesia Center, harga bauksit di pasar internasional pada 2024 sekitar 59 dolar AS per ton.

Sementara itu, jika bauksit dapat diolah menjadi alumina, nilainya dapat mencapai 478 dolar AS per ton atau sekitar 8,1 kali lipat. “Bahkan jika diolah menjadi aluminium, jika dihitung harga rata-rata 20 tahun terakhir, nilai tambahnya bisa melonjak hingga 59 kali lipat,” ujarnya.

Christiantoko menyebut bahwa selisih harga yang lebar antara bahan mentah dan produk turunan menunjukkan potensi ekonomi yang belum optimal dimanfaatkan di dalam negeri.

Ia mencontohkan proyek hilirisasi bauksit-aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, yang dikelola PT Borneo Alumina Indonesia, entitas hasil kolaborasi PT Aneka Tambang Tbk dan PT Indonesia Asahan Aluminium di bawah MIND ID, dengan nilai investasi sekitar 6,32 miliar dolar AS.

Ia mengatakan proyek tersebut menjadi simbol transformasi dari eksportir bahan mentah menuju produsen aluminium bernilai tambah tinggi dengan target operasi penuh pada 2028–2029.

NEXT Indonesia Center juga mencatat pada periode 2020–2024, Tiongkok meraih pendapatan 175,6 miliar dolar AS dari ekspor aluminium, sementara Indonesia memperoleh sekitar 1,9 miliar dolar AS dari ekspor bauksit pada periode yang sama.

“Fakta ini menunjukkan penguasaan teknologi smelter jauh lebih menentukan posisi ekonomi global dibanding sekadar kepemilikan tambang,” tuturnya.

Christiantoko menambahkan kebutuhan aluminium domestik diperkirakan meningkat dari sekitar 1.200 kilo ton per annum (ktpa) pada 2025 menjadi 8.500 ktpa pada 2055, sehingga penguatan industri pengolahan dinilai semakin mendesak.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Posko Siaga PLN Istana Waki...
Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur   

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur  

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.