Menakjubkan, Pendakian Gunung Tambora
📅 Selasa, 17 Jun 2025, 11:15 WIB | Oleh: SujarDari Desa Piong menuju Desa Oi Saro, angin kering terus menerpa tubuh para pendaki. Setelah sekitar 15 menit, mereka masuk ke pintu rimba. Dedaunan pohon menyambut selayaknya gerbang semesta dengan berbagai kesulitan dan kesunyian.
Jalur menuju Pos I hingga Pos II masih diwarnai panas dan medan terbuka. Melewati menara pemantau dengan medan jalan tanah bergelombang, kadang keras, kadang rapuh. Batu-batu tajam seperti gigi naga mengintai ban kendaraan.
Sungai kering dengan dasar terjal beberapa kali membuat laju kendaraan terhenti. Namun, pengemudi yang menjadi pawang roda besi tampak sudah bersatu dengan alam. Waktu tempuh yang dilewati saat itu kurang lebih 1 jam 35 menit.
Ketika memasuki Pos II ke Pos III, jantung pendaki mulai berdetak kencang. Jalur menanjak dengan sudut kemiringan ekstrem, tampak pepohonan rindang dan akar-akar besar menjulur seperti tangan-tangan yang menjuntai.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di kiri tebing dan di kanan jurang, kendaraan harus berjalan pelan di atas garis tipis antara keberanian dan kehati-hatian. Ban tergelincir sedikit, seluruh badan seolah terlempar ke ruang hampa. Getaran mesin, dentuman suspensi yang menghantam batu, dan sorak kecil dari dalam kabin membuat setiap menit terasa seperti petualangan di batas logika.
Sebelum tiba di Pos III, kendaraan pendaki mencapai satu titik tanjakan yang disebut warga setempat sebagai "tenggorokan naga". Raungan mesin mulai terdengar mengerang dan di situlah semua berubah.
Sebuah kendaraan penggerak ganda mendadak berhenti tepat di tengah lintasan yang menanjak hampir tegak lurus, kemiringan nyaris 80 derajat, tanah liat licin, dan tebing menganga di sisi kiri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mobil itu meraung, lalu seketika diam. Suara mesin bergetar, lalu menggigil dalam keraguan. Di dalam kabin sang pengemudi tampak kaku seolah terkurung di antara gas yang tak sepenuhnya ia injak dan keyakinan yang tak sepenuhnya ia genggam.
Menjelang senja, ketika cahaya mentari merunduk di balik pucuk pepohonan hutan tropis, Johan bersama puluhan pendaki lainnya tiba di Pos III. Udara perlahan berubah menjadi lembab dan segar dengan aroma dedaunan basah serta tanah yang baru disirami hujan.
Jejak rusa dan babi hutan tampak samar di tanah berlumpur. Di kejauhan, burung-burung endemik bersahutan.
Mereka menyempatkan diri berjalan menuju titik yang disebut The Sound Off Caldera. Ketika seseorang berteriak dari bibir kaldera, gema suaranya memantul kembali, seperti nyanyian dari perut bumi. Kini, dinding bertulisan The Sound Off Caldera telah runtuh sebagian akibat badai meninggalkan luka visual yang menyayat ruang kenangan para pendaki.
Di tengah sunyi, aba-aba terdengar dari salah seorang petugas Balai Taman Nasional Tambora untuk bersiap melanjutkan perjalanan sebelum malam.
Waktu menunjukkan sekitar pukul 17.00 WITA. Suhu yang sebelumnya hangat mulai terasa menyengat tulang. Udara gunung berubah cepat menusuk dari telapak kaki hingga ke ruas punggung.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!