Ayo Belajar AI Sekarang! Mengapa Harus? Simak Penjelasannya
📅 Selasa, 17 Jun 2025, 18:27 WIB | Oleh: OpikUpaya ini mutlak direplikasi karena Indonesia sudah saatnya mempersiapkan generasi pemimpin masa depan yang kompeten di bidang kecerdasan buatan.
Dekan Fakultas Artificial Intelligence Universitas Pelita Harapan Dr. Rizaldi Sistiabudi menegaskan bahwa AI kini telah terintegrasi di hampir seluruh sektor bisnis, mulai dari perbankan, kedokteran, media, hingga manufaktur. Karena itu, untuk mewujudkan visi Indonesia Emas, dibutuhkan talenta yang terampil dan ahli di bidang AI.
Bagi Rizaldi, AI bukan untuk menggantikan manusia, tetapi untuk meningkatkan kapasitas manusia.
Bahkan, lebih jauh dari itu, AI bukan sekadar tren teknologi, tetapi akan menjadi faktor penentu siapa yang akan memimpin, dan siapa yang tertinggal di masa depan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Etika AI
Hal yang perlu menjadi perhatian kemudian adalah urgensi pembelajaran Ethical AI juga tidak bisa dianggap remeh. Studi OECD dan Future of Life Institute secara konsisten menyoroti risiko AI yang dibangun tanpa etika, memperkuat diskriminasi, menciptakan bias algoritmik, dan memperlebar ketimpangan sosial.
Kampus perlu menjadi ruang aman untuk menguji, mendebat, dan merumuskan nilai-nilai etis dalam penggunaan teknologi yang dampaknya bisa menyentuh kehidupan manusia secara langsung dari pengobatan, hingga keputusan hukum.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sayangnya, pendekatan holistik semacam ini masih menjadi pengecualian, bukan norma. Di tengah masih tingginya ketimpangan akses pendidikan tinggi, sebagaimana diungkapkan studi Bank Dunia, yang mencatat bahwa siswa dari kuintil atas lima kali lebih mungkin melanjutkan kuliah dibanding yang berasal dari kuintil terbawah pendidikan AI yang eksklusif hanya akan memperkuat ketidakadilan struktural.
Jika hanya segelintir orang yang mampu memahami dan mengembangkan AI, maka demokratisasi teknologi tinggal menjadi jargon kosong.
Inisiatif bantuan pendidikan, magang industri, hingga kolaborasi global menjadi penting, bukan sekadar pelengkap program.
Laporan World Economic Forum 2023 memprediksi 44 persen keterampilan kerja akan berubah dalam lima tahun mendatang.
Dalam lanskap yang volatil ini, lulusan harus lebih dari sekadar siap kerja, namun mereka harus siap mencipta dan memimpin transformasi.
Kampus yang mampu menghadirkan ekosistem pembelajaran berbasis proyek dan berorientasi industri memegang peranan strategis dalam membentuk masa depan itu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!