Banyak yang Belum Paham, Kenapa Melek Finansial Sejak Dini Sangat Penting untuk Masa Depan?
📅 Jumat, 30 Mei 2025, 10:35 WIB | Oleh: SriyonoDunia keuangan digital bukan dunia yang harus dihindari, tetapi dunia yang harus dipahami dengan baik. Tanpa pemahaman yang cukup, teknologi bisa berubah dari alat bantu menjadi sumber masalah.
Literasi keuangan
Fakta yang harus disadari bahwa data masih menunjukkan kesenjangan besar. Menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK 2022, indeks literasi keuangan nasional baru mencapai 49,68 persen.
Kelompok usia muda masih tergolong rentan karena minimnya pengalaman dan paparan terhadap edukasi finansial yang komprehensif.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ini berarti sebagian besar anak muda di tanah air belum memiliki pemahaman yang cukup untuk membuat keputusan finansial secara bijak, padahal akses terhadap layanan keuangan justru semakin mudah.
Dalam situasi seperti ini, literasi keuangan harus menjadi urgensi nasional. Kampus, organisasi mahasiswa, media, dan industri keuangan harus bersinergi untuk membangun ekosistem edukatif yang memperkuat daya tahan finansial generasi muda.
Ini bukan hanya soal menghindari pinjaman ilegal atau jebakan bunga tinggi, tetapi tentang membentuk karakter generasi yang mandiri, bijak, dan siap menghadapi tantangan ekonomi ke depan.
Sebaiknya Anda baca juga:
OJK sendiri juga terus mendorong literasi digital dan edukasi publik agar masyarakat lebih paham mengenai bahaya dan jebakan judi online.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan upaya perlindungan dilakukan untuk tujuan tidak hanya menghentikan aliran dana ke platform ilegal, tetapi juga membentuk masyarakat yang lebih kritis, cerdas secara finansial, dan tahan terhadap bujuk rayu perjudian daring.
Untuk itu, generasi muda khususnya mahasiswa yang memiliki pemahaman keuangan yang baik diharapkan akan lebih mampu mengatur anggaran hidup, menabung, merencanakan masa depan, dan bahkan membangun usaha sendiri.
Sebaliknya, tanpa literasi, akses yang terlalu mudah terhadap uang justru bisa menjerumuskan mereka pada perilaku konsumtif dan ketergantungan utang.
Perlu digarisbawahi, menjadi paham finansial tidak berarti harus menjadi pakar ekonomi. Yang dibutuhkan adalah kesadaran dasar untuk tahu cara menyusun anggaran bulanan, mengenal risiko utang, memahami hak dan kewajiban sebagai pengguna layanan keuangan, serta punya kebiasaan menabung dan merencanakan pengeluaran.
Edukasi keuangan yang ideal bukan hanya bersifat teoritis, tapi juga kontekstual yang berangkat dari realitas anak muda.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!