Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Studi Genomik Buktikan Orang Amerika Keturunan Asia

📅 Rabu, 28 Mei 2025, 07:34 WIB | Oleh:

Studi ini juga menyoroti konsekuensi evolusi dari migrasi yang begitu besar. Profesor Associate Kim Hie Lim dari Sekolah Lingkungan Asia NTU, penulis korespondensi studi tersebut, menjelaskan bahwa perjalanan yang sulit selama ribuan tahun telah mengurangi keragaman genetik populasi migran.

“Para migran tersebut hanya membawa sebagian kecil dari kumpulan gen dalam populasi leluhur mereka melalui perjalanan panjang mereka. Dengan demikian, berkurangnya keragaman genetik juga menyebabkan berkurangnya keragaman dalam gen yang berhubungan dengan kekebalan tubuh, yang dapat membatasi fleksibilitas populasi untuk melawan berbagai penyakit menular,” jelas Assoc Prof Kim, seorang Peneliti Utama di SCELSE dan Wakil Direktur GenomeAsia100K.

“Hal ini dapat menjelaskan mengapa beberapa komunitas Pribumi lebih rentan terhadap penyakit atau penyakit yang dibawa oleh imigran berikutnya, seperti penjajah Eropa. Memahami bagaimana dinamika masa lalu telah membentuk struktur genetik populasi saat ini dapat menghasilkan wawasan yang lebih mendalam tentang ketahanan genetik manusia,” urainya.

Rekan Peneliti Senior SCELSE Dr Elena Gusareva, penulis pertama studi tersebut, mengatakan bahwa kelompok-kelompok awal ini menetap di ceruk ekologis baru, dan selama ratusan generasi, tubuh dan gaya hidup mereka berevolusi sebagai respons terhadap tantangan unik di setiap wilayah.

“Temuan kami menyoroti kemampuan adaptasi luar biasa dari kelompok-kelompok pribumi awal yang beragam yang berhasil menetap di lingkungan yang sangat berbeda. Dengan menggunakan teknologi pengurutan genom lengkap beresolusi tinggi di SCELSE, kami sekarang dapat mengungkap sejarah panjang migrasi manusia dan jejak genetik yang ditinggalkan oleh para pemukim awal,” ­ungkapnya.

Pentingnya representasi Asia dalam studi genetik Profesor NTU Stephan Schuster, penulis senior makalah studi dan Direktur Ilmiah konsorsium GenomeAsia100K, mengatakan studi mereka menunjukkan bahwa keragaman genom manusia yang lebih besar ditemukan pada populasi Asia, bukan Eropa, seperti yang telah lama diasumsikan. Hal ini disebabkah oleh bias pengambilan sampel dalam proyek pengurutan genom skala ­besar.

“Hal ini membentuk kembali pemahaman kita tentang pergerakan populasi historis dan meletakkan dasar yang lebih kuat untuk penelitian masa depan tentang evolusi manusia. Wawasan baru kami menggarisbawahi pentingnya meningkatkan representasi populasi Asia dalam studi genetik, terutama karena genomik memainkan peran penting dalam pengobatan yang dipersonalisasi, kesehatan masyarakat, dan pemahaman tentang evolusi manusia,” tambah Prof Schuster, yang merupakan Ketua Presiden bidang Genomik di Sekolah Ilmu Biologi NTU, dan Wakil Direktur Pusat di SCELSE.

Dengan menelusuri dampak migrasi dan isolasi pada karakteristik genetik, studi ini menawarkan wawasan tentang bagaimana populasi yang berbeda merespons penyakit dan bagaimana sistem kekebalan mereka berevolusi. Temuan ini juga membantu para ilmuwan lebih memahami susunan genetik penduduk asli Amerika. hay

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Pilpres Kolombia Diinterven...
Luar Negeri
PBB Mendesak Transpransi Je...
Luar Negeri
WHO Serukan Negara-Negara C...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Pemprov Jabar Tolak Status Darurat Sampah, Pemkot Bandung Siapkan Opsi Alternatif Ini

Pemprov Jabar Tolak Status Darurat Sampah, Pemkot Bandung Siapkan Opsi Alternatif Ini

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.