Kemlu: Asean Sepakat Perkuat Sentralitas di Tengah Ketegangan Dunia
📅 Jumat, 23 Mei 2025, 01:05 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: ANTARA/Cindy Frishanti
JAKARTA - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menegaskan bahwa negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Asean) memahami bahwa sentralitas Asean adalah kunci dalam menghadapi situasi global saat ini.
“Semua anggota Asean juga mendukung upaya diplomasi Asean yang semakin besar,” kata Direktur Jenderal Kerjasama Asean Kemlu RI, Sidharto R Suryodipuro, dalam arahan pers di Jakarta, Rabu (21/5).
Hal itu terlihat saat Asean menanggapi kebijakan tarif dagang yang diberlakukan oleh Presiden AS, Donald Trump.
Sidharto mengatakan bahwa Asean tidak melakukan tindakan balasan terhadap kebijakan AS tersebut, melainkan memutuskan untuk berdialog dengan AS menggunakan mekanisme yang ada seperti Perjanjian Kerangka Kerja Perdagangan dan Investasi (TIFA) dan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP).
Dia mengatakan bahwa sudah menjadi tugas bersama negara anggota Asean untuk memfasilitasi berbagai proses-proses diplomatik tersebut dengan Asean sebagai pusatnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena itulah, semakin penting untuk negara-negara anggota Asean memikirkan bagaimana memperkuat Asean, terutama dalam pengelolaan masalah seperti yang terjadi di Myanmar.
Mengenai isu Myanmar, salah satu agenda utama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asean 2025 yang akan diselenggarakan pada 23-27 Mei 2025 di Malaysia adalah mendengarkan arahan dari Utusan Khusus Ketua Asean mengenai hal-hal yang sudah dilakukan dalam menyelesaikan isu Myanmar.
“Karena masalah Myanmar ini juga kalau dibiarkan berlarut-larut, … dampaknya yaitu kejahatan transnasional yang semakin meningkat,” ujar Sidharto.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketika ditanya tentang Konsensus Lima Poin (5PC), Sidharto mengatakan sampai sekarang belum ada usulan resmi untuk mengubah 5PC tersebut, menambahkan bahwa 5PC itu bersifat sangat umum dan merupakan sebuah proses, bukan tujuan.
Konsensus Lima Poin (5PC) merupakan kesepakatan yang disepakati para pemimpin Asean terkait isu Myanmar, yaitu menyerukan diakhirinya kekerasan segara, pengiriman bantuan kemanusiaan, dialog antara semua pihak, penunjukan utusan khusus untuk Myanmar dan keterlibatan langsung utusan tersebut dengan semua pemangku kepentingan.
“Indonesia sendiri, walaupun bukan ketua, bukan anggota Troika, juga terus melakukan upaya diplomasi lainnya dengan Myanmar,” tambah Sidharto.
Sidharto juga menyebutkan bahwa pejabat senior sudah melakukan pertemuan tingkat tinggi antara Asean dan Tiongkok mengenai Kode Etik (Code of Conduct/CoC) di Kantor Pusat Asean di Jakarta pada Februari lalu.
Dia mengatakan batas waktu untuk menyelesaikan CoC adalah 2026, dan untuk mencapai batas waktu itu, akan diadakan tiga pertemuan tingkat pejabat senior dan lima negosiasi pada tingkat Joint Working Group (JWG).
Kode Etik (Code of Conduct/CoC) antara Asean dan Tiongkok bertujuan untuk menetapkan kerangka kerja guna memastikan perdamaian di Laut Tiongkok Selatan di mana klaim teritorial Beijing yang luas tumpang tindih dengan zona ekonomi eksklusif beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Filipina dan Vietnam.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!