Green Jobs: Apa Benar Punya Prospek Buat Generasi Zilenial?
📅 Jumat, 23 Mei 2025, 13:15 WIB | Oleh: Tim PenulisDi sektor pangan, pertanian organik dan urban farming muncul sebagai bentuk usaha yang makin relevan. Contohnya adalah perusahaan Javara Indonesia, yang memberdayakan petani lokal untuk memproduksi bahan pangan organik tanpa bahan kimia berbahaya. Produk-produk ini kemudian dipasarkan secara luas sampai ke mancanegara, membuktikan bahwa ramah lingkungan bisa sekaligus menguntungkan secara ekonomi.
Di industri kreatif, bisnis fesyen ramah lingkungan seperti Sejauh Mata Memandang membuktikan bahwa kesadaran terhadap limbah tekstil bisa melahirkan peluang usaha baru dengan penerimaan publik yang tinggi. Dengan menggunakan bahan daur ulang dan pewarna alami, usaha ini menunjukkan bahwa nilai estetika dan keberlanjutan bisa berjalan beriringan serta menghasilkan cuan tentunya.
Sementara itu, di sektor pariwisata, desa wisata berbasis ekowisata seperti Nglanggeran Yogyakarta menjadi contoh sukses green job berbasis komunitas. Melalui pelestarian alam, budaya lokal, dan pelibatan warga, desa ini mampu menarik wisatawan tanpa merusak lingkungan sekitarnya.
Meski peminat tinggi dan peluang terbuka lebar, jalan menuju green jobs belum semudah yang diucapkan. Riset Coaction Indonesia mengungkap sejumlah hambatan struktural, seperti kurangnya informasi, keterbatasan keterampilan, dan ketimpangan akses membuat banyak kaum muda ragu melangkah ke bidang ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Agar green jobs bisa diakses lebih luas, peran pemerintah dan institusi pendidikan menjadi krusial. Diperlukan peta jalan pelatihan, akses informasi yang merata, serta integrasi isu keberlanjutan dalam kurikulum pendidikan tinggi dan vokasi. Dunia usaha juga mesti menyediakan peluang yang nyata dan inklusif bagi orang muda di sektor berkelanjutan.
Tips memulai karier green jobs untuk Zilenial
Berikut ini adalah tips bagi Zilenial yang ingin memulai karier di bidang green jobs:
Sebaiknya Anda baca juga:
1. Kenali potensi dan minat diri sendiri: Green jobs tidak hanya terbatas pada profesi teknis di bidang energi atau lingkungan. Jika kamu tertarik pada desain, komunikasi, atau data, semua itu bisa diarahkan ke sektor hijau—seperti mendesain produk berkelanjutan, menjadi edukator lingkungan, atau menganalisis data emisi.
2. Bekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan: Saat ini banyak pelatihan daring gratis yang membahas energi terbarukan, pertanian organik, atau ekonomi sirkular. Kursus dari platform seperti Coursera, LinkedIn Learning, dan komunitas lokal lainnya bisa menjadi pijakan awal kita untuk memahami dunia kerja hijau.
3. Cari pengalaman nyata: Bergabunglah dalam komunitas peduli lingkungan, mengikuti program relawan, atau magang di lembaga yang bergerak di bidang keberlanjutan akan memberimu portofolio hijau yang bernilai. Pengalaman ini bukan hanya memperluas jaringan, tapi juga membuktikan bahwa kamu serius membangun karier yang berdampak positif bagi lingkungan.
Zilenial sedang menggeser arah dunia kerja: dari “kerja demi gaji” menuju “kerja demi dampak.” Dalam pandangan mereka, karier yang bermakna bukan hanya soal prestise, tetapi juga keselarasan nilai, kontribusi sosial, dan kelestarian masa depan.
Green jobs adalah cerminan nyata dari aspirasi ini. Tantangannya kini: bagaimana negara, industri, dan lembaga pendidikan bisa menerima perubahan tren ini dengan membuka jalan agar pilihan ini benar-benar bisa terbuka bagi semua kalangan, terutama kaum muda.
Imam Salehudin, Associate professor, Universitas Indonesia; Aswin Dewanto Hadisumarto, Dosen Manajemen Kewirausahaan , Universitas Indonesia, dan Dony Abdul Chalid, Associate professor, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!