Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Dua Palem di Pulau Howe, Menentang Teori Darwin

📅 Kamis, 22 Mei 2025, 07:14 WIB | Oleh:

Berbagai analisis genetik telah mengungkap bahwa kedua spesies ini berasal dari Pulau Lord Howe. Ini agak aneh mengingat betapa kecilnya pulau itu sebenarnya. Kedua palem ini dapat ditemukan tumbuh berdekatan satu sama lain, jadi pertanyaan besarnya di sini adalah apa sebenarnya yang mendorong evolusi nenek moyang mereka yang sama?

Bagaimana satu spesies yang tumbuh di pulau kecil yang terisolasi menjadi dua? Jawabannya cukup mengejutkan. Ketika para peneliti mengamati lebih dekat sejarah alami kedua spesies ini, mereka menemukan bahwa mereka dalam arti tertentu terisolasi satu sama lain.

Studi jangka panjang oleh Imperial College London menguji bagaimana dan mengapa dua varietas pohon palem Kentia telah menyimpang saat tumbuh berdampingan selama sejuta tahun di pulau terpencil di lepas pantai timur Australia.

“Kami telah menemukan sesuatu yang sama sekali berbeda dari apa yang kami kira sebagai kasus keanekaragaman spesies,” kata Vincent Savolainen dari Departemen Ilmu Hayati universitas tersebut seperti dikutip dari ABC.

“Bayangkan beberapa manusia di sebuah pulau selama 100 juta tahun, tidak seorang pun akan berpikir mereka akan berevolusi menjadi spesies yang berbeda, tetapi sebenarnya tanaman memang berevolusi menjadi spesies yang berbeda,” katanya.

Studi tersebut difokuskan pada dua dari empat varietas Kentia endemik pulau tersebut, Howea belmoreana dan sepupunya yang lebih terkenal, Howea forsteriana. Masyarakat kelas atas Eropa terobsesi dengan forsteriana selama era Victoria.

Bentuknya yang elegan menghiasi kafe beranda di atas kapal Titanic. Ratu Victoria bahkan berpesan agar peti jenazahnya dikelilingi pohon palem saat ia disemayamkan. Industri ekspor pohon ini dimulai pada tahun 1880-an dan terus berlanjut hingga saat ini.

Pembibitan lokal masih menggunakan ember berusia 100 tahun untuk membayar kolektor sejumlah berat benih liar yang dikecambahkan di pulau tersebut sebelum dikirim ke rumah-rumah penanaman besar di Eropa.

Profesor Savolianen mengatakan perbedaan tersebut dimulai sekitar 1 juta tahun lalu dari satu spesies palem yang tiba di pulau tersebut dari Australia. Kedua varietas tersebut mengembangkan waktu berbunga yang berbeda tergantung pada apakah mereka tumbuh di tanah basal atau pasir.

Ia menuturkan hubungan antara tanaman, jenis tanah, mikroba, dan jaringan jamur mikoriza di dalam tanah semuanya diteliti di bawah mikroskop. “Meskipun mereka tidak terisolasi secara geografis, mereka menjadi terisolasi secara reproduktif karena perbedaan waktu pembungaan yang disebabkan oleh beberapa interaksi yang mereka miliki di dalam tanah dengan mikroba,” katanya.

Isolasi ini disebabkan oleh perbedaan fenologi atau waktu yang besar dalam upaya reproduksi mereka. H. forsteriana berbunga sekitar enam minggu sebelum H. belmoreana.

Stres fisiologis ini telah menyebabkan perubahan dalam cara bunga H. forsteriana tumbuh. Ketika ditemukan tumbuh di tanah vulkanik yang lebih subur, para peneliti mencatat bahwa bunga-bunga tersebut tumbuh dengan cara yang lebih serempak, tidak seperti bunga H. belmoreana. hay

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Operasi uji emisi kendaraan di Tangerang

27 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Megapolitan
Pemkot Jakut Vaksinasi Ribu...
Ekonomi
Industri sepatu rumahan kua...

Pelaksanaan program penghapusan bentor

32 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Pelaksanaan program penghap...
Megapolitan
Pemprov DKI gelar program o...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.