AS Akhirnya Membuat Tiongkok Tidak Berkutik Dalam Perang Dagang
📅 Rabu, 14 Mei 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi“Pertemuan yang sangat baik hari ini dengan Tiongkok di Swiss. Banyak hal dibahas, banyak yang disepakati. Reset total dinegosiasikan dengan cara yang bersahabat namun konstruktif,” tulis Trump di platform Truth Social.
“Demi kebaikan Tiongkok dan AS, kami ingin Tiongkok lebih terbuka terhadap bisnis Amerika. KEMAJUAN BESAR TELAH DICAPAI!!!,” tulis Trump lebih lanjut di platform Truth Social seperti dikutip dari Antara.
Tiongkok Terjepit
Menanggapi kondisi terkini perekonomian global, Peneliti Pusat Riset Pengabdian Masyarakat (PRPM) Institut Shanti Bhuana, Bengkayang, Kalimantan Barat, Siprianus Jewarut yang diminta pendapatnya mengatakan Kebijakan Trump akhirnya membuat posisi Tiongkok terjepit. Tiongkok tidak punya pilihan selain menyerah dan masuk ke meja perundingan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebetulnya, Tiongkok di masa kepemimpinan Trump yang pertama sudah berjanji ke AS untuk menerapkan perdagagangan yang lebih fair, namun mereka tidak melakukan karena pengganti Trump yakni Joe Biden tidak menagih Beijing.
Untuk menyeimbangkan neraca perdaganan AS dan Tiongkok itu, maka satu-satunya cara yang harus dilakukan adalah Tiongkok mengimpor barang lebih besar dari AS. Sebagai konsekwensinya, Tiongkok kemungkinan akan mengurangi impor dari negara lain, terutama barang atau komoditas yang bisa diimpor dari AS.
“Impor Tiongkok dari negara lain jelas berkurang, termasuk dari Indonesia khususnya komoditas seperti batu bara, minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO). AS juga kan eksportir untuk minyak nabati seperti minyak jagung dan kedelai. Jadi Tiongkok pasti akan beli ke AS, sehingga kebutuhan CPO-nya akan menurun,” kata Siprianus.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meskipun harga minyak nabati dari AS lebih mahal, tetapi mau tidak mau Tiongkok lebih baik akan membeli dari AS.
RI Jangan Boros
Belajar dari perang dagang tersebut, pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko mengatakan Indonesia jangan terlalu boros dalam perdagangan dengan negara lain, terutama mengimpor barang konsumsi seperti pangan yang sebetulnya bisa diproduksi di dalam negeri.
Presiden Prabowo Subianto harus berpikir akan pentingnya menciptakan stabilitas melalui kemandirian pangan. Sebab, setiap tahun Indonesia memboroskan devisa hingga 15 miliar dollar AS hanya untuk impor pangan.
“Kondisi seperti ini jangan dibiarkan terus, karena hanya untuk kepentingan segelintir kelompok tertentu yakni para pemburu rente (rent seekers). Secara perlahan, rent seekers ini akan mematikan Indonesia,” kata Aditya.
Dengan kondisi yang sangat dinamis, dunia saat ini tidak lagi membiarkan ketimpangan. Presiden Trump sudah menunjukkan itu dengan mengeluarkan kebijakan tarif untuk melindungi negaranya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!