Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Dua Tantangan Menggunakan AI untuk Pendidikan Inklusif di Indonesia

📅 Senin, 05 Mei 2025, 15:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Dua Tantangan Menggunakan AI untuk Pendidikan Inklusif di Indonesia Doc: The Conversation

  Meicky Shoreamanis, Universitas Pelita Harapan

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) berpotensi besar menciptakan pengalaman belajar yang lebih adaptif bagi siswa dengan disabilitas. AI dapat memberikan personalisasi pembelajaran berbasis data, yang memungkinkan materi ajar disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan individu.

AI juga membuka peluang pemerataan akses materi belajar di wilayah minim tenaga pengajar maupun infrastruktur terbatas. Selain itu, fitur-fitur AI (seperti text-to-speech, speech recognition, dan chatbot edukatif) dapat membantu anak dengan disabilitas).

Chatbot berbasis AI, misalnya, telah dimanfaatkan untuk membantu orang dengan neurodivergent (memiliki cara kerja otak yang berbeda dari orang pada umumnya).

Tak heran, makin banyak negara menggunakan AI untuk meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak, remaja, dan orang dewasa dengan disabilitas.

Namun, inklusivitas dalam pendidikan tidak terbatas pada penyediaan akses bagi anak dengan disabilitas saja. Kelompok inklusif juga mencakup mereka yang tinggal di daerah terpencil dan siswa berlatar belakang sosial ekonomi rendah.

Artinya, aksesibilitas di wilayah terpencil serta rendahnya literasi digital di kalangan tenaga pendidik menjadi salah satu tantangan utama dalam pemanfaatan AI untuk pendidikan inklusif di Indonesia.

Akses terbatas ciptakan bias

Aksesibilitas pemanfaatan AI merupakan salah satu tantangan utama karena kompleksitas geografis dan sosial Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat (sekitar 282,5 juta jiwa yang tersebar di lebih dari 17.500 pulau), keberagaman geografis dan profil sosial ekonomi masyarakat Indonesia turut berkontribusi terhadap kesenjangan digital yang terjadi.

Terlebih, banyak wilayah sulit diakses sehingga memperparah keterbatasan infrastruktur digital. Ini membatasi pemerataan pemanfaatan teknologi pendidikan.

Misalnya di Katingan, Kalimantan Tengah, ada desa-desa yang tidak memiliki jaringan internet memadai. Wilayah ini didominasi sungai dan hutan sehingga distribusi infrastruktur digital menjadi sangat mahal dan sulit. Warga harus mencari tempat tinggi atau memanjat pohon demi sinyal.

Ketimpangan distribusi akses internet ini memunculkan bias dalam sistem AI. Pasalnya, teknologi AI umumnya dikembangkan dan dilatih menggunakan data dari wilayah yang lebih mapan secara digital.

Wilayah-wilayah dengan infrastruktur teknologi yang kurang berkembang sering kali terpinggirkan dari ekosistem inovasi kecerdasan buatan (AI). Akibatnya, sistem AI cenderung mencerminkan kebutuhan dan konteks pengguna dari kelompok yang memiliki infrastruktur lebih baik.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Ekonomi
Antrean BBM Jadi Sorotan, G...
Olahraga
Liverpool Gagal Menang di A...
Luar Negeri
Selamat Datang di Festival ...
Daerah
Kebakaran Kawah Ijen Sudah ...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.