Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

BKSDA Resort Sampit observasi lokasi serangan buaya

📅 Minggu, 04 Mei 2025, 21:30 WIB | Oleh:
BKSDA Resort Sampit observasi lokasi serangan buaya Doc: ANTARA/HO-BKSDA Sampit
Ket. Sejumlah petugas BKSDA Resort Sampit memasang spanduk peringatan setelah serangan buaya terhadap warga di Desa Ramban Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Minggu (4/5).

Sampit -- Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah melakukan observasi lokasi setelah terjadi serangan buaya terhadap warga di Desa Bagendang Tengah atau Desa Ramban, Kecamatan Mentaya Hilir Utara.

“Hari ini kami ke lokasi yang dilaporkan ada serangan buaya, kami bertemu dengan korban untuk mengetahui kronologi kejadian sekaligus memberikan bantuan biaya berobat,” kata Komandan BKSDA Resort Sampit Muriansyah di Sampit, Minggu.

Pada Sabtu (3/5) malam, seorang warga setempat bernama Samsul Anwar menjadi korban serangan buaya saat wudhu di Sungai Sampit. Korban berhasil selamat dengan bantuan istri dan warga setempat, kendati mengalami luka di lengan bagian kanan.

Selain mendengarkan keterangan langsung dari korban, ia menjelaskan, petugas melakukan pengamatan secara sistematis terhadap kondisi lokasi kejadian yang menjadi pemicu terjadinya kasus serangan buaya tersebut.

“Lokasi serangan itu tepat di belakang rumah korban yang berada di tepi Sungai Sampit. Ketika kami tiba di lokasi kebetulan warga sedang berkumpul dan mengadakan acara tolak bala di rumah korban,” katanya.

Dalam kegiatan itu, ia menyatakan didampingi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Dapil III Kotim Eddy Mashamy.

Muriansyah memberikan pengarahan kepada warga terkait dengan perilaku buaya dengan tiga hal yang bisa menyebabkan buaya mendekati perairan permukiman.

Pasalnya, katanya, tiga hal ini masing sering ditemukan di wilayah Kotim, yakni warga memelihara ternak di sekitar sungai, membuang bangkai ke sungai, dan membuang sampah rumah tangga ke sungai yang dapat mengundang satwa lain, seperti biawak dan monyet yang merupakan pakan alami buaya.

“Kami sempat berdiskusi dan tanya jawab dengan warga dan mereka mengakui bahwa ketiga hal penyebab buaya mendekati perairan permukiman masih ada di wilayah tersebut, sehingga kami meminta agar hal itu tidak lagi dilakukan,” ujarnya.

Di samping itu, BKSDA Resort Sampit memasang tiga spanduk peringatan terkait dengan potensi serangan buaya di kawasan tersebut dengan harapan dapat mencegah atau meminimalkan terjadinya konflik antara buaya dan manusia.

Pihaknya juga berencana melakukan upaya penangkapan dengan metode pancing atau jerat buaya dalam waktu dekat, sembari mempersiapkan peralatan.

Akan tetapi, ia menegaskan cara terbaik untuk menghindari terjadinya kasus serangan buaya, yakni masyarakat tidak lagi melakukan hal-hal yang dapat mengundang kedatangan hewan tersebut.

“‘Karena sesuatu itu ada sebab dan akibatnya, jadi sebabnya juga harus diperhatikan dan ditangani. Walaupun satu, dua, hingga sepuluh buaya ditangkap, kalau penyebabnya masih ada maka buaya lain akan datang terus ke lokasi tersebut dan konflik akan terus terjadi,” demikian Muriansyah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

25 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...

Peremajaan lahan perkebunan kelapa

34 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Peremajaan lahan perkebunan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.