Tanam raya dan terobosan cerdas menggenjot produksi pangan
📅 Sabtu, 03 Mei 2025, 09:10 WIB | Oleh: SujarDengan stok beras pemerintah di atas 3 juta ton dan rencana menghentikan impor beras konsumsi mulai 2025, sah jika negeri ini menyambut era baru dengan mengumandangkan: “Selamat Datang Kembali Swasembada Beras.”
Namun tantangan sebenarnya adalah mampukah Indonesia menjadikan swasembada ini sebagai kondisi yang berkelanjutan? Apakah ini hanya keberhasilan sesaat atau awal dari kebangkitan permanen?
Ini adalah pekerjaan rumah besar Kabinet Merah Putih. Bangsa ini pernah mencicipi manisnya swasembada, namun sayangnya hanya bersifat sementara.
Dunia internasional pun pernah mengakui keberhasilan itu, tetapi swasembada yang bersifat tren tidak akan cukup. Negeri ini butuh swasembada yang permanen, yang tidak mudah goyah oleh dinamika cuaca, krisis iklim, maupun gejolak pasar global. Ketahanan pangan tidak boleh menjadi agenda musiman, tapi harus menjadi sistem yang kokoh.
Sebaiknya Anda baca juga:
Swasembada beras "on trend" hanya mencerminkan tren peningkatan produksi dalam waktu tertentu. Sedangkan swasembada permanen menunjukkan daya tahan dan kesinambungan. Dua hal ini sangat berbeda secara mendasar.
Tanam raya yang dipimpin Presiden adalah sinyal kuat bahwa pemerintah menargetkan swasembada yang berjangka panjang. Bukan sekadar swasembada politis atau simbolik, tetapi transformasi menyeluruh dalam sistem produksi pangan.
Tanam raya telah digelar di Banyuasin. Target 7,5 juta ton gabah sudah ditetapkan. Semua tentu berharap prakiraan cuaca dari BMKG mendukung.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebab, seberapa besar pun anggaran digelontorkan, jika cuaca dan iklim tidak bersahabat, cita-cita bisa buyar. Semoga bukan itu yang terjadi. Karena dari ladang-ladang petani hari ini, masa depan pangan bangsa sedang ditanam.
Inilah momentum emas untuk membuktikan bahwa Indonesia tak hanya mampu menanam lebih banyak, tapi juga mampu menumbuhkan keadilan dan kesejahteraan bagi para petani yang menjadi tulang punggung negeri.
Swasembada bukan lagi mimpi sesaat, melainkan janji bersama yang harus dijaga, dirawat, dan diwariskan.
*) Penulis adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!