BKSDA Sumbar dan SINTAS Bentuk Patroli Anak Nagari untuk Cegah Konflik Harimau di Sumatera Barat
📅 Kamis, 01 Mei 2025, 18:34 WIB | Oleh: Yebdi Trismar
Doc: Antara Foto
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat bersama Yayasan SINTAS Indonesia membentuk Patroli Anak Nagari (Pagari) Koto Tinggi, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota untuk pencegahan dan penanganan konflik satwa liar dalam upaya mewujudkan masyarakat yang aman serta dapat hidup berdampingan dengan satwa liar khususnya harimau sumatera.
Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Sumatera Barat Rusdiyan P. Ritonga di Lubuk Basung, Kamis, mengatakan ada 10 warga setempat yang telah diseleksi dan ditunjuk oleh wali nagari atau kepala desa setempat.
"Mereka orang terpilih oleh wali nagari yang merupakan perwakilan setiap jorong (kampung atau desa) di daerah itu," katanya.
Ia mengatakan mereka dilatih selama tiga hari mulai 29 April sampai 1 Mai 2025 dengan materi di antaranya kebijakan konservasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), bioekologi, pengamanan hutan dan perlindungan satwa liar, navigasi, penggunaan kamera trap dan penanganan konflik satwa liar.
Setelah itu praktik lapangan berupa patroli, penanganan konflik manusia dengan satwa liar.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Dua hari materi tentang teori, satu hari praktik lapangan tentang patroli dan penanganan konflik harimau," katanya.
Rusdian berharap dengan adanya pelatihan dan pembentukan patroli ini akan terwujud nagari ramah harimau dan dapat menciptakan kondisi masyarakat yang dapat hidup berdampingan dan berbagi ruang dengan satwa, serta mandiri dalam melakukan penanganan awal konflik harimau sumatera di wilayah nagarinya.
"Konflik yang tidak terkendali akan menyebabkan kerugian yang luar biasa dari kedua pihak yakni alam harimau sumatera dan manusia," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia mengakui BKSDA Sumbar telah membentuk delapan Pagari yang tersebar di Kabupaten Agam empat pagari, Solok satu pagari, Pasaman tiga pagari dan Limapuluh Kota satu pagari.
Delapan pagari itu dibentuk bersama Yayasan SINTAS Indonesia dan Centre for Orangutan Protection (COP).
Pembentukan pagari ini sebagai upaya mendorong pelibatan secara aktif masyarakat yang berdomisili di nagari (desa) rawan terjadinya konflik satwa harimau dalam kegiatan penanganan dan deteksi dini.
"Ini dalam menyikapi beberapa peristiwa konflik satwa liar, karena pagari yang dibentuk berada di daerah konflik satwa dengan manusia," katanya.
Sementara Koordinator Biodiversity Team Yayasan SINTAS Indonesia Fernando Dharma mengatakan dengan adanya pagari yang baru ini dapat menambah deteksi dini dan mitigasi konflik yang lebih maksimal terutama di Kabupaten Limapuluh Kota dan secara khusus Sumbar.
Yayasan SINTAS Indonesia siap memberikan dukungan kepada BKSDA Sumbar dan Pagari untuk menjaga biodiversiti keanekaragaman hayati dan ekosistem dari program kegiatan yang akan dilakukan kedepannya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!