Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Merawat Mangrove Demi Terjaganya Ekosistem Pantai di Bali

📅 Minggu, 27 Apr 2025, 22:50 WIB | Oleh:

Sesekali penumpang perahu akan merasakan sejuknya laut yang dikepung oleh rindang pohon bakau.  Perahu selanjutnya akan menjorok ke tengah sehingga penumpang melihat langsung Jalan Tol Bali Mandara dan pemandangan patung Garuda Wisnu Kencana meski terpapar terik matahari.

Namun begitu, pengunjung tak selalu beruntung, karena biasanya setelah satu jam air laut tinggi maka akan berangsur surut dan butuh waktu 5 jam untuk menunggu pasang kembali.

Pengalaman menjelajah ekowisata mangrove ini sangat diminati wisatawan, terbukti jumlah pengunjung rata-rata mencapai 2.400 orang tiap bulan dengan 25 persennya adalah wisatawan asing.

KUB Segara Guna Batu Lumbang berhasil mengumpulkan pendapatan lebih dari Rp300 juta per tahun untuk ekowisata mangrove. Selain itu,  masih ada potensi lain yang dapat dituai dari tanaman mangrove seperti manfaat perikanan dan tumbuhannya sendiri.

Produk berbahan mangrove

Bagi masyarakat pesisir, kepala keluarga menjadi nelayan dan mengembangkan ekowisata, sedangkan  para istri mengolah hasil alam dari kawasan mangrove.

Masih di kelompok yang sama, para wanita setiap hari menantikan hasil panen buah dan daun mangrove untuk diolah.

Tidak setiap saat bahan-bahan ini ada, mereka cenderung hanya mengambil sedikit agar tanaman tidak rusak dan tetap terawat.

Musim panen paling sering datang 6 bulan sekali, dimana buah-buah mangrove terutama jenis sonneratia caseolaris akan diolah menjadi sirup kaya vitamin C dan bruguiera gymnorrhiza diolah menjadi kripik.

Selain itu, daun jeruju atau dari mangrove jenis acanthus ilicifolius akan diolah menjadi teh dan mahkota dari rhizopora mucronata menjadi bahan dasar kopi.

Para wanita mengaku tak mudah mengolah bahan-bahan ini secara tradisional rumahan, namun ketika sudah jadi dan dijual, hasilnya mampu memberi mereka gaji bulanan, tunjangan hari raya, hingga menyisakan uang kas bersama yang dalam setahun mencapai hasil bersih Rp37 juta.

Dari keempat produk ekonomi kreatif yang berhasil diciptakan dan diuji laboratorium Universitas Dhyana Pura, membuat kopi memerlukan waktu paling lama.

Dalam seminggu mereka perlu merendam mahkota mangrove dengan arang kayu sebelum akhirnya dijemur dan disangrai di mesin penggiling berukuran kecil.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Menlu Marco Rubio Tegaskan ...
Nasional
UMKM Didorong Tembus Rantai...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.