Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat Bisa Perlebar Kesenjangan Pendidikan

📅 Kamis, 24 Apr 2025, 19:43 WIB | Oleh:
Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat Bisa Perlebar Kesenjangan Pendidikan Doc: Istimewa
Ket. Dosen Departemen Administrasi Publik Universitas Airlangga (Unair), Agie Nugroho Soegiono.

JAKARTA - Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat yang merupakan program baru pemerintah di bidang pendidikan, justru dinilai bisa memperlebar kesenjangan pendidikan. Dosen Departemen Administrasi Publik Universitas Airlangga (Unair), Agie Nugroho Soegiono, mengatakan, kedua sekolah itu menunjukkan bahwa pemerintah secara tidak langsung mengakui bahwa disparitas pendidikan sangat lebar.

"Yang saya khawatirkan adalah, dengan adanya dua dikotomi ini akan semakin lebar signifikansi pendidikan yang diterima oleh masyarakat," ujar Agie, dalam keterangannya kepada awak media, Kamis (24/4).

Dia menjelaskan, upaya pemerintah dengan membangun sekolah memerlukan anggaran yang sangat besar. Padahal instansi pendidikan telah tersedia dan harus juga jadi perhatian pemerintah.

Agie melanjutkan, ke depan, pemerintah mesti mempersempit disparitas. Hal tersebut bisa dilakukan dengan memperhatikan sekolah yang gedungnya tidak memadai atau guru yang kompetensinya harus meningkat lagi.

"Seharusnya pemerintah fokus ke upaya untuk menyamakan kualitas pendidikan," jelasnya.

Dia menyebut, ada program yang lebih dibutuhkan bagi masyarakat yang kurang mampu daripada membangun sekolah baru. Menurutnya, anggaran pembangunan sekolah bisa diprioritaskan untuk beasiswa anak-anak miskin

"Namun harus berbasis dengan data kemiskinan yang mutakhir," katanya.

Sebagai informasi, Sekolah Garuda didesain untuk diikuti oleh peserta yang unggul, sedangkan, untuk sekolah rakyat mungkin akan mengikutsertakan masyarakat yang selama ini belum memiliki akses pendidikan yang memadai. Penanggung jawab Sekolah Garuda yaitu Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, sedangkan Sekolah Rakyat yaitu Kementerian Sosial (Kemensos).

Peta Jalan

Agie mengungkapkan, daripada membangun sekolah, pemerintah harusnya menyediakan peta jalan atau road map pendidikan. Menurutnya, fenomena ganti menteri ganti kurikulum membuat sektor pendidikan sulit berkembang.

"Semua mulai dari awal lagi. Ini merupakan catatan poin kritis, untuk mencari titik temu dari kurikulum yang sedang berjalan dan jangan sampai siswa sebagai bahan percobaan," ucapnya.

Dia menyinggung pendidikan yang hanya dilihat sebagai alat untuk kapitalisasi dan fokus ke industri. Tantangan lain adalah kehadiran AI yang mengancam peran guru dalam proses pembelajaran.

"Padahal seharusnya pendidikan itu membebaskan, dan tidak sebagai alat untuk melawan perbedaan kelas. Kita butuh roadmap yang bisa melakukan revitalisasi pendidikan, baik secara kurikulum maupun dari segi peningkatan kualitas guru," tuturnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Daerah
Eri Cahyadi Tegaskan Tak Ad...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.