Ratusan Siswa SMP Tidak Bisa Baca, Tantangan Berat Bagi Guru
📅 Kamis, 24 Apr 2025, 23:23 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rup
Doc: Istimewa
JAKARTA - Ratusan siswa SMP di Buleleng, Bali, tidak bisa membaca dengan lancar. Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) Achmad Hidayatullah menyebut bahwa hal ini merupakan tantangan berat khususnya sekolah dan guru.
"Temuan ratusan siswa SMP di Buleleng, Bali yang tak bisa membaca dengan lancar menjadi peringatan keras bahwa pendidikan Indonesia tidak baik-baik saja," ujar Dayat, dikutip dari laman resmi UM Surabaya, Kamis (24/4).
Dia menjelaskan, peristiwa covid dan pandemi yang terjadi beberapa tahun lalu merupakan salah satu faktor. Pada saat itu, siswa belajar dalam kondisi tidak normal, semua diganti pembelajaran online yang notabene sistemnya belum terbangun dengan baik.
Dayat melanjutkan, kemampuan dasar seperti membaca dan menghitung yang semestinya bisa dikuasai sejak sekolah dasar tidak berkembang dengan baik. Selain itu, sistem pembelajaran di kelas yang tidak mengarus utamakan deep learning.
“Dengan tidak menikmati proses belajar mengajar, penguasaan siswa terhadap kemampuan dasar membaca, menulis dan berhitung tentu bisa berkurang,” jelasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai informasi, dari 34.062 siswa di Buleleng, sebanyak 155 siswa dinyatakan termasuk dalam kategori tidak bisa membaca (TBM). Sementara 208 siswa siswa termasuk dalam kategori tidak lancar membaca (TLM).
Dayat mengungkapkan, ada tiga hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah dalam rangka menyelesaikan permasalahan tersebut. Pertama, melakukan pendataan atau evaluasi tentang siswa yang belum bisa membaca dan menghitung terkonsentrasi di daerah mana.
Kedua, guru perlu dukungan dari pemerintah untuk membangun sistem beliefs atau keyakinan mereka. Menurutnya, ketertinggalan siswa seperti tidak bisa membaca dan menghitung masih bisa diperbaiki.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Dengan penguatan sistem beliefs ini guru bisa termotivasi untuk tetap mendampingi siswa agar mereka bisa membaca dan menghitung," katanya.
Ketiga, sekolah dan guru perlu menguatkan beliefs atau keyakinan siswa bahwa mereka bisa melewati permasalahan seperti masalah tidak bisa membaca dan menghitung. Pembelajaran yang menantang di kelas dengan mengutamakan proses seperti pembelajaran metacognitive bisa menjadi solusi untuk membangun sistem keyakinan siswa bahwa mereka bisa membaca dan mampu melakukan perhitungan matematika.
“Pembelajaran metacognitive membawa spirit deep learning atau pembelajaran yang mendalam,” ucapnya.
Dayat memberi contoh dalam pembelajaran matematika dan bahasa, pada pembelajaran tersebut siswa dibimbing mengontrol level kemampuan mereka dalam membaca dan menghitung, selanjutnya siswa dibimbing untuk bisa melakukan evaluasi dan meningkatkan kemampuan mereka secara bertahap dalam membaca dan berhitung.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!