Dinas Perpustakaan Sleman Mengadakan Bedah Buku 'Guyup Rukun Ayem Tentrem'
📅 Kamis, 24 Apr 2025, 21:38 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA
SLEMAN – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan bedah buku "Guyub Rukun Ayem Tentrem: Keluarga Bahagia Dalam Masyarakat Jawa" di Desa Wisata Taman Sendang Bandung, Karang Sumberagung, Moyudan, Sleman, Kamis (24/4).
Ketua Tim Pengelolaan Koleksi DPK Kabupaten Sleman, Wahyuningsih, mengatakan bahwa kegiatan bedah buku "Guyup Rukun Ayem Tentrem" ini bertujuan memberikan informasi kepada masyarakat Kabupaten Sleman agar masyarakat lebih mengenal falsafah kehidupan guyub rukun dan ayem tentrem di lingkungan keluarga.
"Diharapkan para peserta bedah buku ini juga dapat mengajak masyarakat untuk gemar membaca dan memanfaatkan layanan perpustakaan," katanya.
Pustakawan DKP Sleman, Bagus Eko Nur Saputro, selaku moderator bedah buku mengatakan buku “Guyub Rukun Ayem Tentrem” ini mengangkat tema tentang penanaman nilai-nilai luhur dan pembentukan karakter semua anggota keluarga.
"Narasumber yang kami hadirkan, yakni Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Sleman dan Anggota Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) Muh Zuhdan serta penulis buku 'Guyub Rukun Ayem Tentrem' Cahyadi Takariawan," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sedangkan Zuhdan dalam paparannya menyampaikan bahwa IPM Kabupaten Sleman memiliki indikator tertinggi di Indonesia. Namun, menurut indikator dunia dari seribu orang hanya satu orang di Indonesia yang gemar membaca.
"Buku Guyub Rukun Ayem Tentrem yang ditulis Cahyadi Takariawan bersama istrinya Ida Nur Laila itu, memiliki gaya bahasa dan penulisan yang sederhana dan mudah dipahami," katanya.
Ia mengatakan dalam prakata buku terdapat definisi tentang ketahanan keluarga yang merupakan kondisi dinamis dalam menghadapi tantangan dan gangguan dalam keluarga.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Penulis membahas mengenai ketahanan fisik dan ketahanan sosial keluarga. Ketahanan fisik keluarga memang menempatkan kebutuhan sandang pangan dan papan menjadi prioritas paling dasar," katanya.
Terkait dengan harmonisasi keluarga dalam hal mendidik anak, penulis menyatakan bahwa anak bukan semata-mata anak milik orang tua, namun juga merupakan masa depan dan tanggung jawab orang tua. "Orang tua perlu membekali anak dengan akidah dan akhlak," katanya.
Bapak Zuhdan juga menyampaikan bahwa perempuan itu tidak pernah menghitung duitnya dan tenaganya yang digunakan untuk kesejahteraan keluarga selama tidak tersakiti. "Sehingga jangan pernah sakiti perempuan," katanya.
Sementara Cahyadi Takariawan mengatakan bahwa masyarakat Jawa memiliki "local wisdom" (pitutur luhur), kaya akan simbol-simbol yang dikemas dalam bentuk tembang-tembang sehingga mudah diterima dan dinikmati masyarakat.
"Tembang-tembang Jawa mengandung banyak pesan-pesan penuh makna menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, cinta, kasih sayang, kelembutan, kehangatan, namun juga keperwiraan dan kepahlawanan," katanya.
Menurut dia, keputusan menikah hendaknya diambil dengan niat yang tulus, motivasi yang lurus, tekad yang kuat, yang bersemayam dalam hati.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!