Kiriman 1.000 Ekor Burung Hantu dari Presiden Prabowo, Harapan Baru Petani Majalengka Tingkatkan Produktivitas?
📅 Minggu, 13 Apr 2025, 13:37 WIB | Oleh: SriyonoPeneliti Ahli Madya sekaligus Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yudhistira Nugraha mengatakan burung hantu (Tyto alba) memiliki kemampuan memangsa tikus dalam jumlah signifikan.
Yudhistira menjelaskan bahwa seekor burung hantu dewasa memiliki kemampuan memangsa beberapa ekor tikus setiap malam. Namun, ia mengingatkan bahwa dalam kondisi ledakan populasi tikus, kehadiran burung hantu saja tidak akan cukup efektif.
Menurutnya, strategi pengendalian yang terpadu diperlukan agar populasi tikus dapat ditekan secara cepat sebelum akhirnya dikendalikan secara alami oleh predator seperti burung hantu.
Keberhasilan program ini, menurut Yudhistira, tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan aktif petani, edukasi yang memadai, serta dukungan regulasi dan fasilitasi pemerintah. Salah satu aspek penting adalah penyediaan rumah burung hantu, mengingat Tyto alba tidak membangun sarangnya sendiri.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Rumah burung hantu menjadi kunci keberhasilan program konservasi ini sekaligus menjadi fasilitas penting bagi mereka untuk menetap dan berkembang biak," katanya.
Fasilitasi ini juga sudah dilakukan oleh banyak pemerintah daerah dengan pendekatan swadaya maupun bantuan APBD. Di Kabupaten Garut, petani secara mandiri membangun rubuha karena menyadari dampaknya terhadap hasil panen mereka.
Namun demikian, penting pula diingat bahwa burung hantu bukan solusi tunggal. Mereka harus menjadi bagian dari sistem pengendalian hama terpadu. Penggunaan metode mekanis seperti grobyokan, pengemposan sarang, dan pemasangan perangkap juga tetap harus dilakukan untuk mencegah wabah atau outbreak.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tantangan Masa Depan
Meskipun telah terbukti efektif, pendekatan ini masih menghadapi sejumlah tantangan seperti rendahnya kesadaran petani di beberapa wilayah, masih adanya perburuan terhadap burung hantu, serta belum meratanya distribusi rubuha. Perlu ada kebijakan nasional yang lebih kuat untuk mendukung konservasi dan pemanfaatan predator alami ini dalam sistem pertanian.
Namun, dengan dorongan dari kepala negara langsung, peluang untuk mengarusutamakan pendekatan ini sangat terbuka. Dalam pidatonya, Presiden RI Prabowo menekankan bahwa kebijakan semacam ini adalah wujud kehadiran negara yang nyata.
"Kita juga harus cari obat antihama yang kita buat sendiri. Di daerah sini saya dapat laporan, hama tikus sangat pelik masalahnya, dan yang paling bagus sekarang katanya adalah burung hantu," ungkap Prabowo.
Pernyataan itu membawa pesan penting bahwa teknologi tidak selalu harus bersifat modern dan mahal. Terkadang, solusi terbaik datang dari cara paling sederhana yang selaras dengan alam.
Burung hantu Tyto alba bukan hanya sekadar satwa malam pemangsa tikus, tetapi juga simbol kebijakan cerdas yang berpihak pada ekosistem, petani, dan masa depan pertanian berkelanjutan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!