Kiriman 1.000 Ekor Burung Hantu dari Presiden Prabowo, Harapan Baru Petani Majalengka Tingkatkan Produktivitas?
📅 Minggu, 13 Apr 2025, 13:37 WIB | Oleh: Sriyono
Doc: antara foto
JAKARTA - Banyak orang mengernyitkan dahi kala Presiden RI Prabowo Subianto mengumumkan bantuan 1.000 ekor burung hantu kepada petani di Majalengka, Jawa Barat. Benarkah burung itu bakal mampu meningkatkan produktivitas petani saat panen nanti?
Di tengah kemajuan teknologi pertanian dan gelontoran pupuk maupun pestisida modern, langkah tersebut terdengar seperti langkah kuno, bahkan bagi sebagian orang dianggap lucu.
Namun di balik respons skeptis itu, terdapat sebuah fakta ilmiah dan bukti lapangan yang tak terbantahkan, yakni burung hantu adalah salah satu solusi alami paling efektif untuk memberantas hama tikus.
Tikus, dalam ekosistem pertanian, bukan hanya menggerogoti batang padi atau merusak benih, tapi juga menjadi simbol keputusasaan petani. Di banyak wilayah, hama ini menyerang secara masif, merusak puluhan hektare sawah hanya dalam hitungan malam.
Dalam satu siklus hidup, seekor tikus betina bisa melahirkan ribuan keturunan dalam satu tahun—sebuah populasi yang berkembang sangat cepat, sulit dihentikan, dan mampu menghancurkan panen dalam sekejap.
Sebaiknya Anda baca juga:
Presiden Prabowo melihat celah solusi yang kerap diabaikan, yaitu pendekatan hayati. Dan salah satu predator alami paling efektif untuk tikus adalah burung hantu dari jenis Tyto alba.
Langkah ini sesungguhnya bukan gagasan instan, melainkan strategi berbasis ekologi yang sudah lama diuji di berbagai daerah dan bahkan telah direkomendasikan para ahli.
Predator Alami
Sebaiknya Anda baca juga:
Tyto alba bukan hanya menjadi simbol kehadiran keseimbangan ekosistem, tetapi juga bagian dari sistem pengendalian hama terpadu yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Di luar Majalengka, inisiatif penggunaan burung hantu sebenarnya sudah diterapkan sejak beberapa tahun terakhir oleh pemerintah daerah, petani, dan kelompok tani.
Pada 2024 lalu di Garut, Jawa Barat, Dinas Pertanian setempat mencatat telah membangun 280 rumah burung hantu atau rubuha yang tersebar di 42 kecamatan hingga Agustus 2024. Meski sebagian besar rumah tersebut belum dihuni, harapannya jelas yakni burung hantu akan datang, menetap, dan menjadi penjaga alami sawah petani. Satu rubuha diklaim bisa mengendalikan hama tikus pada areal 4 sampai 5 hektare sawah.
Langkah serupa juga telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, dengan membangun sebanyak 25 rubuha secara masif sebagai bagian dari gerakan konservasi.
Masih pada periode yang sama, 40 rumah burung hantu dibangun di Karawang sebagai bagian dari program nasional Kementerian Pertanian. Meskipun jumlahnya belum memenuhi rasio ideal, program ini disambut baik oleh petani karena mampu mengurangi biaya pestisida yang selama ini membebani produksi.
Sementara itu, di Rejang Lebong, Bengkulu, Kementerian Pertanian pada saat itu juga menyerahkan tiga pasang burung hantu kepada kelompok tani sebagai simbol pendekatan ekologis. Para petani diberi pemahaman bahwa setiap malam, burung hantu bisa membunuh lebih dari 20 ekor tikus, bukan hanya untuk makan, tetapi juga sebagai bentuk pertahanan teritorial.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!