Dari Sumber Daya Lokal ke Pasar Global, Fesyen-Kriya RI Didorong Naik Kelas
📅 Selasa, 06 Okt 2026, 13:55 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyampaikan kekayaan budaya, kreativitas, dan keragaman sumber daya lokal Indonesia menjadi modal kuat untuk memacu pengembangan industri fesyen dan kriya nasional agar menghasilkan produk bernilai tambah dan berdaya saing.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita menyampaikan potensi tersebut perlu terus dikembangkan melalui peningkatan kualitas produk, inovasi desain, penguatan kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, serta perluasan akses pasar.
“Industri fesyen dan kriya memiliki potensi besar untuk terus berkembang karena didukung kekayaan budaya, kreativitas, dan keragaman sumber daya lokal Indonesia. Pemerintah terus mendorong potensi tersebut agar dapat diterjemahkan menjadi produk bernilai tambah yang mampu diterima pasar nasional maupun internasional,” ujar Reni dalam pernyataannya dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (6/10).
Salah satu dukungan Kemenperin diwujudkan melalui partisipasi pada Pameran Kerajinan Nusantara (Kriyanusa) 2026 yang digelar Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) pada 26–30 September 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).
Menurut Reni, keikutsertaan dalam pameran menjadi bagian penting pembinaan IKM karena memberikan kesempatan pelaku usaha berinteraksi dengan konsumen, memperoleh respons pasar, membangun jejaring, dan menjajaki peluang kerja sama bisnis.
“Melalui kegiatan ini, para perajin dan pelaku IKM memperoleh ruang untuk menampilkan karya terbaiknya, memperluas jejaring usaha, sekaligus memperkenalkan nilai budaya yang terkandung dalam setiap produk yang dihasilkan,” ungkapnya.
Potensi industri kerajinan juga tercermin dari kinerja ekspor. Pada triwulan II 2026, nilai ekspor industri kerajinan mencapai 223,1 juta dolar AS, meningkat 28,59 persen secara tahunan dibandingkan periode sama 2025 sebesar 173,50 juta dolar AS.
Berdasarkan data Trade Map Januari–Juni 2026, Amerika Serikat menjadi tujuan ekspor terbesar dengan pangsa sekitar 28 persen, disusul Taiwan, China, Jepang, dan Belanda.
Pada Kriyanusa 2026, Ditjen IKMA memfasilitasi delapan IKM binaan yang menampilkan produk fesyen, aksesori, kerajinan tangan, tenun, dan kriya lainnya. Selama lima hari pameran, delapan IKM tersebut membukukan total transaksi Rp313 juta.
“Capaian tersebut menunjukkan bahwa produk IKM kerajinan nasional memiliki daya tarik dan peluang pasar yang kuat. Karena itu, kami mendorong pelaku IKM tidak hanya mempertahankan kekuatan pada nilai budaya dan keterampilan perajin, tetapi juga terus meningkatkan desain, kualitas, inovasi, serta kemasan agar mampu menjawab kebutuhan dan perubahan tren pasar,” tutur Reni.
Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kemenperin Budi Setiawan mengatakan pengembangan produk perlu dilakukan berkelanjutan dengan memperhatikan perubahan preferensi konsumen.
“Konsumen saat ini tidak hanya mempertimbangkan fungsi produk, tetapi juga memperhatikan desain, estetika, inovasi, dan kemasan yang ramah lingkungan. Karena itu, perajin harus terus kreatif dan mampu membaca tren pasar,” ujar dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!