Tarif AS Momentum Kurangi Kebergantungan Eksternal, ASEAN Perlu Perkuat Ketahanan Ekonomi Kawasan
📅 Kamis, 10 Apr 2025, 22:03 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Istimewa.
JAKARTA – Di tengah ketidakpastian global, seperti gejolak geopolitik, perubahan iklim, krisis pangan & energi, inflasi tinggi, dan disrupsi teknologi, ASEAN perlu mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas kawasan dan memperkuat posisi di kancah global.
Potensi ekonomi ASEAN sangat besar dan terus berkembang, menjadikannya salah satu kawasan paling strategis di dunia saat ini. Produk Domestik Bruto (PDB) ASEAN pada 2023 mencapai sekitar 3,9 triliun dollar AS sehingga menjadikannya blok ekonomi terbesar ke-5 di dunia jika digabungkan setelah AS, Tiongkok, Jepang, dan Jerman. Dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 4–5% per tahun, ASEAN punya potensi menjadi ekonomi ke-4 dunia pada 2030–2040.
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Arif Havas Oegroseno menilai tarif timbal balik atau resiprokal Amerika Serikat (AS) menjadi momentum bagi ASEAN untuk memperkuat kemandirian regional dalam bidang ekonomi.
“Ini adalah momentum yang sangat baik bagi ASEAN untuk menciptakan kemandirian regional yang strategis dalam bidang ekonomi,” ujar Arif Havas dalam “Public Forum: Regional Response to Trump 2.0” yang digelar oleh CSIS Indonesia, dipantau dari Jakarta, Kamis (10/4).
Havas menyampaikan bahwa kontribusi AS dalam perdagangan global berkisar di angka 14-15,5 persen. Berdasarkan hal tersebut, Havas menyoroti potensi 80 persen aktivitas perdagangan global yang bisa dieksplore di luar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, Havas juga menyoroti nilai perdagangan global AS yang berada di kisaran 400 miliar dolar AS atau sekitar Rp6.811 triliun (kurs Rp17.027,72).
“Menariknya, perdagangan antar-ASEAN pada 2024 itu mencapai 759 miliar dolar AS (Rp12.924 triliun),” kata Havas.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa perdagangan antar-negara anggota ASEAN berjalan dengan sangat baik, bahkan melebihi kontribusi yang dimiliki oleh AS di tingkat global.
Sebaiknya Anda baca juga:
Maka dari itu, Havas menilai penting bagi ASEAN memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat kemandirian regional.
“Mungkin, kami perlu meninjau kembali atau setidaknya mengevaluasi perjanjian perdagangan bebas ASEAN,” ujarnya lagi.
Havas menyampaikan bahwa ASEAN harus belajar dari Uni Eropa ihwal bagaimana negara-negara barat tersebut meniadakan hambatan perdagangan antarnegara anggota.
Meskipun pasar internal Uni Eropa jauh lebih maju dibandingkan ASEAN, kata dia, namun ada baiknya bagi ASEAN untuk memiliki mekanisme perdagangan yang serupa dengan Uni Eropa.
Wabilkhusus, mekanisme untuk mempermudah pergerakan orang, pergerakan barang, dan pergerakan jasa di dalam ASEAN.
“Ini (memperkuat independensi regional) sangat memungkinkan. Saya meyakini dalam ASEAN sendiri, kita harus melihat peluang-peluang itu dan menemukan jalan untuk memperdalam ini,” kata Havas.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!