Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Menbud: Hadirkan Benda Pos dalam Buku Jadi Cara Lestarikan Budaya

📅 Minggu, 16 Mar 2025, 11:08 WIB | Oleh: Tim Penulis
Menbud: Hadirkan Benda Pos dalam Buku Jadi Cara Lestarikan Budaya Doc: Kementerian Kebudayaan RI
Ket. Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

JAKARTA - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, pentingnya pelestarian benda-benda pos sebagai bagian dari sejarah dan identitas bangsa, salah satu upaya yang telah dilakukan yakni melalui buku “Kartu Pos dari Buitenzorg” yang telah diluncurkan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pusat Perkumpulan Filatelis.

“Ini merupakan upaya yang sejalan dengan misi Kementerian Kebudayaan untuk melestarikan warisan budaya dan mengenalkannya pada generasi mendatang,” ujar Menbud sebagaimana dikutip dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (14/3).

Kartu pos dan benda-benda filateli, lanjut dia, merupakan bagian dari material kultur yang pada beberapa waktu mendatang akan semakin menghargai sesuatu yang terlihat bentuk fisiknya.

Fadli Zon mengatakan, perangko dan kartu pos dapat dijadikan sebagai jembatan diplomasi yang dapat menghubungkan berbagai bangsa. “Perangko dan kartu pos buka saja sebagai alat komunikasi namun menjadi medium penting di dalam diplomasi budaya, memotret segala peristiwa sejarah, kekayaan alam, seni dan tradisi Indonesia ke seluruh dunia. Kartu pos ini dikirim ke berbagai negara dan daerah,” ujarnya pula.

Adapun buku “Kartu Pos Bergambar Buitenzorg” ditulis oleh Fadli Zon bersama Mahpudi, yang berkisah tentang Kota Bogor pada masa kolonial Belanda yang digambarkan melalui kartu pos sebagai media.

Total kartu pos berjumlah 179 koleksi termuat dalam buku setebal 166 halaman. Kartu pos ini menampilkan berbagai ikon kota seperti Istana dan Kebun Raya, serta menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa kolonial.

Buku ini juga telah meraih penghargaan medali emas dalam Pameran Filateli Nasional (Panfila) 2025.

“Melalui buku ini, kita ingin menjelajahi jejak-jejak sejarah Bogor pada masa Hindia Belanda, khususnya pada periode tahun 1890 - 1930. Buku ini tidak hanya mengabadikan gambar bersejarah, tetapi mengajak kita merenungkan bagaimana kota dan masyarakat berkembang dari waktu ke waktu,” tutupnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Daerah
Produk UMKM Dipromosikan Le...
Wisata
Prosesi adat kansoda'a di W...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.