Kawah Pilbara, Bekas Tumbukan Meteorit Tertua di Ditemukan
📅 Rabu, 12 Mar 2025, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Chris Kirkland, Curtin University
Sebuah kawah bernama Pilbara merupakan cekungan luas yang selama telah lama dikenal. Hasil penelitian terbaru kawah ini merupakan dampak dari tumbukan meteorit yang terjadi saat Bumi masih muda.
Tim dari Universitas Curtin telah menemukan kawah tumbukan meteorit tertua di Bumi, tepat di jantung wilayah Pilbara di Australia Barat. Menurut hasil analisis mereka, kawah tersebut terbentuk lebih dari 3,5 miliar tahun yang lalu, menjadikannya kawah tertua yang diketahui berusia lebih dari satu miliar tahun.
“Penemuan kami dipublikasikan hari ini di Nature Communications,” kata Tim Johnson, salah satu penulis penelitian seorang profesor di sekolah ilmu Bumi dan planet di Universitas Curtin di Australia, dalam tulisannya di The Conversation.
“Anehnya, kawah tersebut berada persis di tempat yang kami harapkan, dan penemuannya mendukung teori tentang kelahiran benua pertama di Bumi,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, batuan tertua di Bumi terbentuk lebih dari 3 miliar tahun yang lalu, dan ditemukan di inti sebagian besar benua modern. Namun, para ahli geologi masih belum dapat menyetujui bagaimana atau mengapa mereka terbentuk.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meskipun demikian, ada kesepakatan bahwa benua-benua awal ini sangat penting bagi banyak proses kimia dan biologis di Bumi. Banyak ahli geologi berpikir bahwa batuan purba ini terbentuk di atas semburan panas yang naik dari atas inti logam cair Bumi, seperti lilin dalam lampu lava.
Yang lain berpendapat bahwa benua-benua itu terbentuk oleh proses tektonik lempeng yang mirip dengan Bumi modern, tempat bebatuan saling bertabrakan dan mendorong satu sama lain. Meskipun kedua skenario ini sangat berbeda, keduanya disebabkan oleh hilangnya panas dari dalam interior planet Bumi. “Kami berpendapat agak berbeda,” ujar Johnson.
Beberapa tahun yang lalu, tim yang beranggota Chris Kirkland, Profesor Geokronologi, Universitas Curtin dan Jonas Kaempf, Rekan Peneliti, Geologi, Universitas Curtin menerbitkan sebuah makalah yang menyatakan bahwa energi yang dibutuhkan untuk membuat benua di Pilbara berasal dari luar Bumi, dalam bentuk satu atau lebih tabrakan dengan meteorit berdiameter beberapa kilometer.
Sebaiknya Anda baca juga:
Saat tumbukan tersebut meledakkan sejumlah besar material dan melelehkan bebatuan di sekitarnya. Mantel di bawahnya menghasilkan "gumpalan" tebal material vulkanik yang berevolusi menjadi kerak benua.
“Bukti kami kemudian terletak pada komposisi kimia kristal-kristal kecil mineral zirkon, seukuran butiran pasir. Namun, untuk meyakinkan ahli geologi lain, kami membutuhkan bukti yang lebih meyakinkan, lebih baik lagi jika sesuatu dapat dilihat orang tanpa memerlukan mikroskop,” ungkap Johson.
Jadi, pada bulan Mei 2021, tim tersebut memulai perjalanan panjang ke utara dari Perth selama dua minggu untuk kerja lapangan di Pilbara. Di sini mereka kemudian bertemu dengan mitra mereka dari Survei Geologi Australia Barat (GSWA) untuk mencari kawah tersebut. Namun pertanyaan yang muncul dari mana harus memulai?
Awal yang Tidak Terduga
Target pertama mereka adalah lapisan batuan yang tidak biasa yang dikenal sebagai Antarctic Creek Member. Batuan ini uncul di sisi kubah dengan diameter sekitar 20 kilometer dan hanya setebal sekitar 20 meter. Sebagian besar dari batuan ini terdiri dari batuan sedimen yang diapit di antara beberapa kilometer lava basaltik yang gelap.
Namun, lapisan ini juga mengandung spherules, tetesan yang terbentuk dari batuan cair yang terlempar ke atas selama tumbukan. Namun, tetesan ini dapat menyebar ke seluruh dunia dari tumbukan besar di mana pun di Bumi, kemungkinan besar dari kawah yang kini telah hancur.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!