Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Festival Reba Ngada Jakarta, Menghidupkan Warisan Budaya Leluhur di Tanah Rantau

📅 Rabu, 12 Mar 2025, 20:20 WIB | Oleh:
Festival Reba Ngada Jakarta, Menghidupkan Warisan Budaya Leluhur di Tanah Rantau Doc: istimewa
Ket. Malam puncak acara Festival Reba Ngada Jakarta dimeriahkan oleh Tarian O Uwi dan Goe-goe yang dipersembahkan oleh komunitas Golewa Diaspora Jabodetabek, di Anjungan NTT, Sabtu (1/3).

JAKARTA- Ribuan masyarakat Ngada Diaspora Jakarta, pada 1 Maret 2025 lalu kembali tumpah ruah di Anjungan Nusa Tenggara Timur (NTT), Taman Mini Indonesia Indah (TMII) untuk merayakan Festival Reba Ngada Jakarta 2025. Dengan tema “Bersyukur Bersama Saudara, Melangkah Penuh Harapan”, festival tahunan itu bukan hanya sekadar perayaan budaya, tetapi juga menjadi ajang refleksi spiritual, mempererat kebersamaan, dan upaya nyata dalam melestarikan warisan leluhur.

Ketua Panitia Festival Reba Ngada 2025, Gregorius Upi Dheo, menyampaikan bahwa festival kali ini dihadiri oleh lebih dari 6.000 peserta dari berbagai latar belakang, termasuk tokoh adat, pemuka agama, akademisi, seniman, mahasiswa, dan komunitas diaspora Flobamora dari Jabodetabek hingga luar kota.

“Festival ini semakin menegaskan bahwa budaya Ngada tidak hanya hidup di tanah asalnya, tetapi juga terus berkembang di tanah rantau,” ungkap Gregorius.

Greg mengungkapkan, rangkaian Festival reba Ngada Jakarta 2025 telah sukses digelar dengan sejumlah rangkaian kegiatan penuh makna.

Pertama, Woko Uwi dan Dero: Perayaan Tradisi yang Membawa Berkah. Festival dimulai dengan prosesi Woko Uwi, yang merupakan bentuk ungkapan syukur kepada leluhur atas hasil panen dan berkat kehidupan. Setelah itu, peserta disuguhkan dengan tarian Dero, tarian lingkar khas Ngada yang menggambarkan kebersamaan dan kegembiraan dalam merayakan Reba.

Kedua, Sudu dan Sagi: Mengajarkan Keberanian dan Persaudaraan. Festival menampilkan Sudu dan Sagi, tinju adat Ngada yang mengajarkan keberanian, ketangkasan, serta pentingnya sportivitas dan persaudaraan. Tradisi ini mengingatkan bahwa setiap perbedaan seharusnya diselesaikan dengan damai, bukan dengan permusuhan.

Ketiga, Sarasehan Budaya: Festival Reba sebagai Pemicu Ekonomi Kreatif dan Pariwisata. Dalam sesi Sarasehan Budaya, para akademisi dan tokoh adat berdiskusi tentang bagaimana Festival Reba dapat menjadi pendorong bagi pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis budaya di Flores. Diskusi itu menyoroti akan pentingnya budaya sebagai aset yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengorbankan kearifan lokal.

Keempat, Misa Inkulturasi Reba Ngada: Memperkuat Iman dan Identitas Budaya. Misa Inkulturasi yang dipimpin oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, menjadi salah satu momen paling sakral dalam festival ini. Perayaan Ekaristi ini menggabungkan elemen liturgi Katolik dengan adat Ngada, memperlihatkan bahwa iman dan budaya bisa berjalan berdampingan, saling memperkuat dan memperdalam spiritualitas umat.

Perayaan Ekaristi juga menggabungkan elemen liturgi Katolik dengan unsur adat Ngada (inkulturasi), menunjukkan bahwa iman dan budaya dapat berjalan selaras, memperkuat identitas dan spiritualitas umat.

Kehadiran Uskup Agung Ende menambah makna mendalam dalam misa ini, memberikan refleksi spiritual yang kuat bagi seluruh peserta.

"Terima kasih Bapak Uskup, para Pastor Konselebran, umat yang datang dari Semarang, Surabaya, Bali, Sumatera, dan Kalimantan. Ini menggembirakan hati kami. Reba kali ini sepatutnya disiapkan panitia untuk menyambut kehadiran tiga pemimpin penting: Uskup Agung Ende, Gubernur NTT, dan Bupati Ngada yang baru,” ungkap Ketua Paguyuban Keluarga Besar Ngada Jabodetabek (PKBNJ), Damianus Bilo.

Rasa Syukur

Puncak perayaan Festival Reba Ngada 2025 ditutup dengan tarian Ja’i, tarian khas Ngada yang melambangkan semangat kebersamaan dan syukur. Ribuan peserta bergabung dalam lingkaran besar dan menari bersama, menunjukkan bahwa budaya adalah jembatan yang menghubungkan generasi tua dan muda.

Kepala Penghubung NTT di Jakarta, Donald Izaac, menegaskan bahwa sebagai agenda tahunan, Reba adalah bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur, juga menyatukan komitmen untuk menjaga, melestarikan serta mempromosikan budaya di tengah-tengah arus informasi dan teknologi yang cepat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur  

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Piala Dunia, Tim-tim Favori...
PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.