Ramadan di Depan Mata, Mampukah Pemerintah Bendung Lonjakan Harga?
📅 Selasa, 18 Feb 2025, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA – Pemerintah meningkatkan level kewaspadaan serta memastikan stabilitas harga pangan pokok strategis menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri. Untuk itu, peran aktif seluruh pemerintah daerah sangat penting untuk menyukseskan upaya pengamanan pasokan dan harga pangan.
"Rapat hari ini adalah rapat persiapan jelang HBKN bahas ketersediaan. Tadi Bapak Mentan (Menteri Pertanian) sebagai Menko Pangan ad interim, karena Pak Zulhas sedang ke luar negeri, kita telah memastikan ketersediaan pangan, cukup," terang Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi usai menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) di Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (17/2).
Lebih lanjut, sebagai tindak lanjut hasil Rakor Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang digelar Rabu (12/2).
"Kami di Bapanas telah menyampaikan imbauan ke seluruh Gubernur, Wali Kota, dan Bupati seluruh Indonesia untuk dapat mendukung strategi pengamanan pasokan dan harga pangan jelang HBKN. Ini merupakan tindak lanjut dari apa yang sudah kita bahas dalam Rakor SPHP sebelumnya," sebutnya.
Dalam surat yang ditandatanganinya, Arief menyampaikan 4 hal penting untuk dilaksanakan bagi tiap pemerintah daerah (pemda). Pertama, pemda agar melakukan pendataan ketersediaan stok dan harga bahan pangan. Kedua, pemda agar dapat melakukan pengendalian dan tindakan preventif terhadap potensi terjadinya gejolak pasokan dan harga pangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selanjutnya, pemda agar terus laksanakan pemantauan dan pengawasan pasokan dan harga pangan secara berkala. Terakhir, Bapanas mendorong pemda menerapkan kerja sama antara daerah, khususnya daerah yang defisit atau berpotensi dan cenderung mengalami gejolak harga pangan.
Terkait itu, realisasi pengadaan setara beras yang sedang digencarkan oleh Perum Bulog, per 14 Februari, telah berada di angka 75,2 ribu ton. Realisasi ini sama dengan 2,51 persen terhadap target yang telah ditetapkan pemerintah.
"Kita optimistis Bulog mampu melaksanakan penugasan serap panen dalam negeri. Tren menunjukkan nanti penyerapan Bulog di Maret akan mulai menanjak seiring dengan adanya surplus antara produksi terhadap konsumsi secara bulanan," tutup Arief.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menilik neraca produksi dan konsumsi beras yang disusun Bapanas, surplus produksi terhadap konsumsi akan terjadi mulai Maret 2025. Proyeksi produksi Januari 2025 sebesar 1,33 juta ton dengan kebutuhan konsumsi sebulan 2,59 juta ton. Sementara produksi Februari 2025 ditaksir mencapai 2,10 juta ton dan pada Maret 2025 dapat melejit hingga 5,24 juta ton.
Operasi Pasar
Pada kesempatan sama, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menuturkan komitmen pemerintah menurunkan harga pangan pokok di Ramadan nanti. "Hari ini rapat untuk persiapanharga bahan pokok di bulan suci Ramadan. Kita harapkan harganya stabil. Bila perlu harganya lebih rendah daripada tahun sebelumnya dan juga kita akan melakukan operasi pasar besar-besaran," ucapnya.
Dirinya berharap pada bulan suci Ramadan, harga pangan stabil dan bahkan bisa di bawah dari harga tahun lalu. "Tugas pemerintah adalah bagaimana produsen, dalam hal ini petani, peternak tersenyum, konsumen bahagia, dan pengusaha untung," pungkas Mentan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!