Perang Hitam, Konflik Paling Berdarah di Tasmania
📅 Jumat, 31 Jan 2025, 06:10 WIB | Oleh: Tim PenulisSebagian besar pertumpahan darah terjadi di tanah-tanah milik negara-negara Teluk Oyster dan Sungai Besar, terutama di distrik-distrik Richmond, Clyde, dan Oatlands. Pada musim dingin tahun 1829, wilayah tersebut telah menjadi zona perang.
Ditekan oleh para pemukim, pada bulan September 1830, George Arthur meminta setiap pria yang berbadan sehat di koloni tersebut untuk bergabung dengan pasukan militer dan polisi. Tugas mereka adalah membentuk rantai manusia (atau Garis).
Mereka diminta mengintai seluruh pulau secara sistematis, dan menjebak serta mengusir penduduk Big River dan Oyster Bay yang tersisa dari Distrik yang Dihuni (Settled Districts) ke semenanjung Tasman. Kedua tempat adalah yang ditunjuk untuk misi mengusir Aborigin.
Rantai manusia, atau Garis, akan membentang dari Quamby Bluff di Great Western Tiers hingga St Patrick’s Head di Pantai Timur dan bergerak maju dalam gerakan menjepit. Sekitar sepuluh persen dari populasi pria Van Diemen’s Land berpartisipasi dalam Garis Hitam, yang terdiri dari sekitar 2.200 pria dan 541 pasukan, sebanyak 700 dari mereka adalah narapidana.
Sebaiknya Anda baca juga:
Garis Hitam dirancang oleh George Arthur, dengan masukan dari pejabat sipil, banyak di antaranya adalah veteran yang pernah bertugas di Waterloo dan di India. Tidak lebih dari 200 pria dan wanita Aborigin di dalam Garis yaitu, di dalam Distrik yang Dihuni. hay
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!