Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Deteksi Dini Jadi Kunci Berantas TBC

📅 Rabu, 22 Jan 2025, 00:03 WIB | Oleh: Tim Penulis
Deteksi Dini Jadi Kunci Berantas TBC Doc: ANTARA/Arif Firmansyah
Ket. Ilustrasi - Dokter memeriksa penderita penyakit tuberkulosis (TBC).

JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan deteksi kasus secara dini menjadi salah satu kunci dalam memberantas tuberkulosis (TBC) di Indonesia yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun.

"TBC penyakit yang bisa diobati asal cepat ditemukan dan bisa berobat hingga tuntas, dan TBC juga bisa dicegah dengan melakukan skrining atau deteksi dini," ujar Direktur Penyakit Menular Kemenkes, Ina Agustina di Jakarta, Selasa.

Ina mengatakan Indonesia menempati peringkat kedua negara dengan angka TBC tertinggi di dunia dengan estimasi mencapai 1.090.000 kasus dengan kematian mencapai 125.000 orang pada 2023.

Sementara peringkat pertama ditempati India dengan estimasi mencapai 2.800.000 kasus dengan angka kematian mencapai 315.000 orang. Data tersebut merujuk pada laporan Global Tuberkulosis Report 2024.

Untuk kasus pada 2024 di Indonesia, Ina mengatakan terlaporkan sebanyak 860.100 kasus yang terkonfirmasi TBC. Dari jumlah tersebut 751.574 orang melakukan pengobatan.

"Tidak hanya masalah nasional, tapi global, diperkirakan sekitar 1 miliar kematian akibat TBC secara global dalam 200 tahun terakhir," kata Ina.

Deteksi kasus diperlukan agar penderita tidak saling menularkan. Pemahaman yang belum kuat di masyarakat soal TBC ini juga menjadi tantangan dalam upaya menekan angka penyakit menular tersebut.

Pemerintah, kata dia, telah mengidentifikasi sejumlah permasalahan dan menyusun langkah strategis untuk mempercepat penanggulangan penyakit ini.

Salah satu strateginya, yakni optimalisasi skrining aktif menggunakan X-ray yang terintegrasi dengan pemeriksaan genetis. Selain itu, integrasi data informasi TBC menjadi fokus utama mengurangi kasus yang tak terlaporkan.

"Terintegrasi dalam pemeriksaan kesehatan gratis ada skrining dan penemuan aktif menggunakan X-ray. Sehingga, diharapkan kita lebih luas untuk menyaring pasien," kata dia.

Kendati demikian, menurut dia, penanganan TBC tidak bisa mengandalkan sektor kesehatan maupun pemerintah saja. Perlu kerja sama dari seluruh pihak, utamanya kerja sama pentahelix.

"Jadi, kolaborasi lintas sektor mulai dari pusat hingga daerah, pelibatan akademisi, swasta, masyarakat, hingga media perlu dalam upaya ini," kata Ina.

Ia yakin melalui deteksi kasus TBC serta pengobatan yang berkelanjutan, angka kasus atau prevalensi TBC bisa ditekan.

"Kita masih mengutamakan promotif dan preventif. Orang dengan risiko tinggi untuk kena TB, yakni kontak erat, kontak serumah, dan beberapa penyakit tertentu orang dengan HIV, diabetes melitus, atau kurang gizi, adalah orang-orang yang beresiko terkena TB," kata dia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Tim Gabungan Kendalikan Titik Api di TPSA Ciniru Kuningan
    Preview komentar:
    Apakah layanan WhatsApp Bank Neo 24 jam? Ya, Layanan ...
  • Rumput Laut & Agar-agar RI Masuk AS Bebas Tarif Tambahan 10%
    Preview komentar:
    Berapakah Wa bank neo? Nomor WhatsApp resmi layanan ...
    Berapakah Wa bank neo? Nomor WhatsApp resmi layanan ...
  • Bukan Lagi Sekadar Cangkul, Teknologi Bantu Petani Bantul Kelola 200 Hektare Lahan Bawang Merah
    Preview komentar:
    Berapakah WA Neo bank? Ya, Nomor WhatsApp resmi ...
    Berapakah WA Neo bank? Ya, Nomor WhatsApp resmi ...
Megapolitan
Penyaluran Bantuan Sumur Bo...
Daerah
Melestarikan Budaya Lewat F...
Daerah
Kabut Asap Mengancam Keseha...
Luar Negeri
Utang Meningkat, Rakyat Jep...
Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

23 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.