Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Boven Digoel, Kamp Interniran Bagi Tawanan Politik

📅 Senin, 06 Jan 2025, 06:10 WIB | Oleh: Tim Penulis

 Gubernur Jenderal De Graeff memiliki ‘pandangan etis’: para tahanan harus dapat menjalani kehidupan ‘normal’ di Boven-Digoul. Tapi kehidupan normal dalam keadaan tidak normal. Selama tahun 1927-1943 sekitar 3400 orang hidup dalam anomali ini.

Para tahanan mungkin tidak dibunuh atau dianiaya secara fisik seperti di kamp konsentrasi, namun di bawah pemerintahan Belanda mereka dibiarkan mengurus diri mereka sendiri, yang mempunyai konsekuensi serius bagi kesehatan fisik dan mental mereka, menurut Van Donselaar.

1736089774_98b357794fc885b08c16.jpg

Barak di kamp interniran di Tanah Tinggi, Digoel Atas (KITLV/Wikimedia).

Para interniran dibagi menjadi beberapa kelompok. Pertama yang ‘Bersedia Bekerja,’ yang mendapat tunjangan bulanan dari pemerintah. Kesediaan ini muncul dari prospek pelepasan lebih awal, sesuatu yang memiliki peluang sukses terbesar di kelompok ini.

Kedua ‘Wiraswasta’, yang berfungsi sebagai semacam wiraswasta di bidang perikanan, penjahitan, pendidikan, dan sebagainya. Anggota kelompok ini mempunyai peluang lebih kecil untuk dibebaskan. Ketiga Penyandang Cacat’ (juga disebut ‘penerima bantuan’), yang tidak dapat bekerja karena sakit dan oleh karena itu juga mendapat dukungan dari pemerintah Belanda.

Keempat adalah kaum ‘yang tidak dapat didamaikan,’ para interniran yang paling memberontak. Sering dikaitkan dengan ‘naturalis.’ Mereka benar-benar terisolasi dan peluang mereka untuk dibebaskan juga nihil tulis Van Donselaar.

Mungkin dua interniran Boven-Digul yang paling terkenal adalah Sutan (ejaan Belanda: Soetan) Sjahrir (1909-1966) dan Mohammad Hatta (1902-1980). Bertentangan dengan mitos yang selama ini beredar, Sukarno (1901-1970) tidak pernah dipenjarakan di Boven Digul, melainkan di pulau Flores dan Sumatra.

 Kaum nasionalis Indonesia yang disebutkan di atas (bahaya besar kedua menurut otoritas Belanda, setelah bahaya pertama komunisme dilenyapkan) tiba di Tanah Merah pada tanggal 28 Januari 1935. Keduanya memilih status ‘naturalis’.

Setelah bocornya surat Hatta kepada iparnya tentang kondisi kamp yang keras, hal itu menimbulkan keresahan di DPR. Disepakati bahwa Boven Digul tidak cocok untuk ‘intelektual’ seperti Sjahrir dan Hatta dan karena itu mereka kemudian dipindahkan ke pulau Banda Neira di Maluku pada tahun 1936.  hay

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Dongkrak Kedatangan Turis, ...
Rona
Sering Melotot Belum Tentu ...
Daerah
RSUD Prambanan Ada Bau-bau ...
Daerah
Siswa Jalani Ujian Kenaikan...

Antisipasi Kemarau, Masa Tanam Dipercepat

29 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Antisipasi Kemarau, Masa Ta...
Daerah
Cukup Bagus Hasil Penanaman...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.