Macron Tunjuk Francois Bayrou Bayrou sebagai PM
📅 Senin, 16 Des 2024, 02:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/STEPHANE DE SAKUTIN
PARIS - Presiden Emmanuel Macron pada Jumat (13/12) menunjuk pemimpin beraliran tengah Francois Bayrou sebagai perdana menteri dan memberinya tugas berat untuk membawa Prancis keluar dari krisis politik selama berbulan-bulan.
Bayrou, kepala kelompok MoDem berusia 73 tahun yang bersekutu dengan partai Macron, diangkat sembilan hari setelah parlemen menggulingkan pemerintahan PM Michel Barnier dalam mosi tidak percaya menyusul terjadinya kebuntuan mengenai anggaran penghematan.
"Presiden Macron telah menunjuk Francois Bayrou sebagai perdana menteri dan menugaskannya untuk membentuk pemerintahan," kata kantor kepresidenan Prancis.
Pengangkatan Bayrou langsung memicu kecaman, dengan partai sayap kiri Prancis Tak Terkalahkan (LFI) dan Partai Hijau mengancam akan mendukung mosi kecaman baru.
Bayrou adalah PM keenam di bawah mandat Macron setelah penggulingan Barnier pekan lalu. Ia juga merupakan PM keempat Macron sepanjang tahun 2024.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bayrou sekarang menghadapi tantangan langsung dalam menyusun kabinet yang dapat bertahan dari mosi tidak percaya di parlemen yang terpecah dan menyusun anggaran 2025 dalam upaya untuk membatasi gejolak ekonomi. Kabinet baru sendiri diperkirakan akan diumumkan di kemudian hari.
Bayrou akan ditugaskan untuk melakukan dialog dengan semua kekuatan politik kecuali partai sayap kanan National Rally (RN) dan partai sayap kiri LFI untuk menemukan kondisi bagi stabilitas dan tindakan, kata seorang anggota tim Macron pada Jumat.
Baik partai RN maupun LFI pekan lalu telah bergabung untuk menggulingkan pemerintahan Barnier.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Nama Francois Bayrou muncul dalam beberapa hari terakhir sebagai sosok yang paling konsensual," ungkap anggota tim itu.
Kebuntuan Baru
Saat ini Macron telah dihadapkan dengan kondisi politik rumit yang muncul dari pemilihan umum parlemen dadakan musim panas ini seperti bagaimana mengamankan pemerintahan dari mosi tidak percaya di majelis rendah yang terpecah belah di mana tidak ada partai atau aliansi yang memiliki mayoritas.
Baik ketua LFI, Jean-Luc Melenchon, dan pemimpin partai RN, Marine Le Pen, yang muncul sebagai penentu setelah pemilu musim panas, tidak menjadi bagian dari pembicaraan terbaru tersebut.
Le Pen menyarankan pengangkatan Bayrou mungkin akan menimbulkan kebuntuan baru. "Kami memintanya untuk melakukan apa yang pendahulunya tidak mau lakukan: mendengarkan pihak oposisi dan menyusun anggaran yang masuk akal dan dipertimbangkan dengan matang," kata Le Pen di media sosial X.
Sedangkan Front Populer Baru (NFP) yang berhaluan kiri, yang dibentuk untuk mencegah kubu sayap kanan berkuasa, muncul sebagai blok terbesar di Majelis Nasional setelah pemilu. Para petinggi aliansi NFP yang meliputi Partai Sosialis, Komunis, dan Hijau serta LFI telah menuntut agar Macron menunjuk seorang perdana menteri dari kalangan mereka.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!