Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bangun Industri agar Bonus Demografi Tak Jadi Beban

📅 Selasa, 10 Des 2024, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Indonesia sudah harus meninggalkan cara kerja konvensional yang hanya bermental pedagang. Mendatangkan barang dan luar (impor) lalu membanjiri pasar dalam negeri. Cara lama ini membuat negara selalu jalan di tempat, karena tidak adanya added value atau nilai tambah. Yang untung hanya pedagang dan negara negara eksportir yang memanfaatkan ceruk pasar RI yang besar.

Dengan membangun industri substitusi impor, penyerapan tenaga kerja akan meningkat. Keuntungan lainnya struktur industri nasional juga semakin kuat, sehingga tidak rentan dengan gejolak geopolitik yang semakin ke sini, kian tak menentu dan mengganggu rantai pasok global.

Sebagai warga negara, sudah sepantasnya mengapresiasi ketegasan Kementerian Perindustrian yang menolak investasi perusahaan teknologi Apple di RI yang hanya senilai 1,6 triliun rupiah karena belum memenuhi asas keadilan. Apple hanya menjadikan RI sebagai pasar dan mengeruk keuntungan 32 triliun rupiah dari penjualan produknya. Namun enggan membangun fasilitas produksi, padahal sudah membangun fasilitas produksi di Vietnam, senilai 255 triliun rupiah dan menyerap 200 ribu pekerja.

Langkah tegas ini pun berdampak ke Iphone 16 yang dilarang dijual di Indonesia. "Saat ini, Apple belum membangun pabrik atau fasilitas produksi di Indonesia," tegas Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita.

Serap Pekerja

Alasan Menperin masuk akal karena pembangunan pabrik lebih memberi multiplier effect karena akan menyerap banyak pekerja, mengurangi tingkat pengangguran dan membuat momentum bonus demografi tak berlalu begitu saja.

Sikap tegas Kemenperin juga terjadi pada Permendag 8/2024 yang dinilai mempermudah masuknya produk jadi tekstil dan produk tekstil (TPT) impor, sehingga mematikan industri nasional. Terlepas dari detail silang pendapat tersebut, intinya saya melihat inilah perwujudan jiwa nasionalisme di ranah industri. Kasus Apple dan impor TPT merupakan momen bagi RI untuk meningkatkan bergaining position atau posisi tawar di dunia internasional.

Karena itu, Kemenperin diharapkan terus menjadi garda terdepan dalam membangun dan memperkokoh struktur industri nasional. Tak hanya untuk produk elektronik melainkan juga untuk semua sektor industri. Kiranya spirit ini juga menular pada kementerian/lembaga lain karena hanya dengan membangun industri, bonus demografi tak lagi menjadi beban ekonomi di masa depan, melainkan modal dan berkah menuju Indonesia Emas 2045.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Luar Negeri
Gempa Tibet Tewaskan 16 Ora...
Megapolitan
BMKG Peringatkan Hujan Leba...

Kemenkes Perluas Cek Kesehatan Gratis

36 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
Kemenkes Perluas Cek Keseha...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.