Peran Lebah yang Membantu Atasi Konflik antara Gajah dan Manusia di Kenya
📅 Sabtu, 16 Nov 2024, 02:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/Tony KARUMBA
SEORANG petani perempuan Kenya bernama Charity Mwangome mengatakan bahwa mereka dulunya sangat membenci gajah. Hal itu ia beberkan sambil berhenti sejenak dari pekerjaannya di bawah naungan pohon baobab. Suara lebah yang bersenandung di latar belakang merupakan salah satu alasan mengapa kebenciannya telah memudar.
Perempuan bertubuh kecil berusia 58 tahun itu mengatakan gajah rakus sering kali merusak hasil kerja selama berbulan-bulan di lahan pertaniannya yang terletak di antara dua bagian Taman Nasional Tsavo di Kenya yang terkenal di dunia.
Gajah disukai oleh para wisatawan karena kehadiran mereka di taman nasional telah menyumbang sekitar 10 persen dari PDB Kenya. Namun hewan-hewan tersebut dibenci oleh sebagian besar petani lokal, yang merupakan tulang punggung perekonomian negara tersebut.
Konservasi gajah di Kenya sendiri telah meraih kesuksesan besar. Jumlah populasi gajah di Tsavo meningkat dari sekitar 6.000 ekor pada pertengahan 1990-an menjadi hampir 15.000 ekor pada tahun 2021, menurut Dinas Satwa Liar Kenya (KWS).
Akan tetapi, populasi manusia juga bertambah pesat, sehingga mengganggu rute penggembalaan dan migrasi ternak. “Bentrokan yang terjadi menjadi penyebab utama kematian gajah,” kata KWS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mwangome selalu menolak kompensasi saat dia kehilangan hasil panennya dan ia mengakui amat marah dengan para konservasionis. Namun, proyek jangka panjang oleh lembaga konservasi Save the Elephants memberinya solusi yang tak terduga yang bisa menghalangi beberapa hewan terbesar di alam dengan beberapa hewan terkecilnya yaitu lebah madu Afrika.
Pagar sarang lebah kuning cerah sekarang melindungi beberapa lahan lokal, termasuk milik Mwangome.
Sebuah studi sembilan tahun yang diterbitkan bulan lalu menemukan bahwa gajah menghindari peternakan dengan lebah ganas sebanyak 86 persen pada saat puncak musim panen.
Sebaiknya Anda baca juga:

Seorang petani sedang memeriksa pagar sarang lebah di lahan pertaniannya dekat Kota Voi, Kenya, pada akhir Oktober lalu. Berkat solusi teknologi tepat guna ini, para petani bisa melindungi panennya dari gangguan gajah karena dengungan dan bau lebah amat dibenci oleh hewan mamalia besar tersebut.
“Ternyata pagar sarang lebah bisa menyelamatkan kami,” ucap Mwangome.
Dengungan intens dari 70.000 lebah sudah cukup untuk membuat banyak hewan lainnya melarikan diri, termasuk seekor gajah seberat enam ton. Tetapi Loise Kawira dengan tenang mengangkat sebuah nampan di tempat pemeliharaan lebahnya untuk memperlihatkan sarang rumit berisi madu.
Kawira, yang bergabung dengan Save the Elephants pada tahun 2021, adalah seorang konsultan peternak lebah yang melatih dan memantau petani dalam tugasnya yang rumit ini.
Proyek Kawira ini mendukung 49 petani, yang lahannya dikelilingi oleh 15 pagar sarang yang saling terhubung. Masing-masing digantung pada kawat berminyak beberapa meter dari tanah, yang melindungi mereka bukan hanya dari serangan luak dan serangga, tetapi juga dari gangguan gajah yang lapar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!