Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bisakah Program Makan Bergizi Gratis Atasi ‘Stunting’ di Indonesia?

📅 Jumat, 04 Okt 2024, 13:23 WIB | Oleh: Tim Penulis

Stunting tidak hanya disebabkan oleh kurangnya asupan gizi. Ada beragam faktor lain yang menyebabkan anak mengalami tengkes, seperti pola asuh, kesehatan, sanitasi, dan akses terhadap air bersih.

Pemerintah sebenarnya sudah menjalankan berbagai program penanggulangan stunting, termasuk edukasi gizi bagi ibu hamil dan bayi, serta peningkatan akses terhadap makanan bergizi. Namun, prevalensi tengkes masih tinggi di berbagai daerah, terutama di wilayah timur Indonesia.

Karena itu, efektivitas program makan gratis diragukan jika tidak dipadukan dengan upaya perbaikan faktor penyebab stunting lainnya.

2. Infrastruktur harus memadai

Distribusi bahan pangan yang berkualitas sering kali terhambat oleh akses jalan yang buruk, minimnya sarana transportasi, serta keterbatasan fasilitas penyimpanan. Akibatnya, pelaksanaan program ini berisiko tidak maksimal, terutama di daerah pedalaman yang infrastrukturnya tidak memadai.

Agar bisa konsisten mendistribusikan makanan bergizi ke seluruh Indonesia, terutama ke daerah-daerah terpencil, pemerintah perlu memastikan pembangunan infrastruktur yang memadai.

3. Pengawasan kualitas gizi

Pemerintah perlu memastikan makanan yang disediakan memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak.

Pada anak, misalnya, kandungan gizi makanan harus sesuai standar kebutuhan pertumbuhan anak yang optimal berdasarkan usianya. Karena setiap anak memiliki kebutuhan gizi yang berbeda.

Menu makanan yang kurang disesuaikan dengan kebutuhan gizi sesuai usia dan kondisi anak, bisa mengurangi efektivitas program.

4. Telan biaya besar

Program makan bergizi gratis memerlukan anggaran yang sangat besar karena mencakup anak, ibu hamil, dan ibu menyusui di seluruh Indonesia. Bank Dunia menyoroti potensi masalah anggaran yang mungkin muncul dari penyelenggaraan program ini.

Tanpa perencanaan anggaran yang matang, program ini bisa sangat membebani keuangan negara dan berisiko menyebabkan pengeluaran lebih banyak daripada pendapatan (defisit anggaran). Pemerintah perlu memastikan bahwa pendanaan program makan bergizi gratis cukup dan berkelanjutan, tidak hanya dalam jangka pendek, tetapi juga dalam jangka panjang agar manfaatnya benar-benar bisa dirasakan bersama.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Olahraga
Iran Membidik Langkah Berse...
Daerah
Kasus yang Melingkungi Proy...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.