Palang Merah Internasional Bertemu Menlu Rusia Bahas Situasi di Kursk
📅 Jumat, 20 Sep 2024, 00:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/foto-Anadolu
St Petersburg - Presiden Komite Internasional Palang Merah (ICRC), Mirjana Spoljaric, bertemu Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, untuk membahas sejumlah topik, termasuk situasi di Wilayah Kursk, demikian pernyataan kantor ICRC di Rusia kepada Sputnik.
Pertemuan antara Spoljaric dan Lavrov berlangsung pada Selasa (17/9) di Moskow.
"Semua isu kemanusiaan penting, termasuk situasi di Wilayah Kursk, dibahas dalam diskusi tersebut. Tentu saja, kami tidak bisa memberikan rincian lebih lanjut karena ini adalah informasi rahasia. Namun, dapat kami katakan bahwa pembicaraan tersebut berlangsung menarik dan substantif," ujar kantor ICRCRusia.
ICRC menambahkan bahwa upaya yang sedang berlangsung melibatkan diskusi berkala mengenai isu-isu mendesak, seiring perkembangan situasi dari waktu ke waktu.
ICRC juga menyatakan bahwa kunjungan presiden organisasi ini sangat penting untuk menjaga dan memperkaya dialog tersebut.
Pada Selasa, juru bicara ICRC, Galina Balzamova, mengatakan kepada Sputnik bahwa ICRC telah meminta izin dan siap untuk mengunjungi wilayah di Kursk yang terkena dampak serangan angkatan bersenjata Ukraina, namun hanya jika ada jaminan keamanan dari kedua belah pihak yang terlibat konflik.
Sebaiknya Anda baca juga:
"ICRC telah meminta akses ke Wilayah Kursk sejak awal eskalasi, dan kami siap membantu. Namun, dua syarat harus dipenuhi untuk hal ini. Pertama, dibutuhkan jaminan keamanan. Kedua, harus ada kesepakatan antara kedua pihak tentang bagaimana operasi semacam ini bisa dilaksanakan," jelas kantor ICRC.
Sebelumnya, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyebut pernyataan Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, yang mengatakan bahwa Kiev telah mengundang perwakilan PBB dan Palang Merah Internasional untuk mengunjungi pemukiman di Wilayah Kursk yang diserang militer Ukraina, sebagai sebuah provokasi.
Pasukan Ukraina melancarkan serangan di Wilayah Kursk pada 6 Agustus.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyebut tindakan tersebut sebagai provokasi besar-besaran yang menargetkan warga sipil dan berjanji akan memberikan tanggapan yang tepat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!