Bisnis Antariksa ‘Booming’, Akankah Wisata Luar Angkasa Semakin Murah?
📅 Jumat, 13 Sep 2024, 15:00 WIB | Oleh: Tim PenulisDibalik kisah sukses itu, catatan keselamatan industri ruang angkasa komersial tidaklah sempurna. Walaupun memang belum ada kejadian warga sipil yang tewas di luar angkasa, namun sejumlah kecelakaan pernah terjadi. Pada 2014, seorang pilot tewas dan satu orang lainnya terluka dalam uji terbang SpaceShipTwo milik Virgin Galactic. Sebelumnya, pada 2007, tiga kru tewas dan tiga orang terluka dalam ledakan pra-peluncuran roket yang sama.
SpaceX, perusahaan ruang angkasa komersial terbesar dengan 13.000 karyawan dan valuasi sebesar US$180 miliar (Rp2.772 triliun), memang belum mencatat kematian dalam penerbangan, tetapi perusahaan itu telah menyebabkan satu kematian dan ratusan cedera di tempat kerja.
Teranyar, misi Polaris Dawn SpaceX yang sedianya diluncurkan pada 27 Agustus 2024 sempat ditunda karena kebocoran helium dan cuaca buruk, sebelum akhirnya berhasil diluncurkan pada 10 September 2024. Kejadian-kejadian seperti ini tentu memperbesar risiko bagi warga sipil di luar angkasa. Apalagi, penerbangan SpaceX ini akan mencapai ketinggian 435 mil atau sekitar 700 kilometer, lebih tinggi dari misi mana pun sejak era Apollo.
Empat orang kru sipil Polaris Dawn akan menerima dosis radiasi besar-setara dengan yang bisa mereka dapatkan dalam 20 tahun di Bumi-hanya dalam beberapa jam. Lewat misi ini, NASA akan meneliti sejauh mana risiko kesehatan manusia terhadap radiasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Misi ini juga akan menjadi aktivitas luar angkasa pertama astronaut non-pemerintah. Mereka akan menggunakan setelan ruang angkasa yang belum pernah diuji di luar angkasa sebelumnya. Mereka juga akan menggunakan pesawat Dragon milik SpaceX yang tidak memiliki pengatup udara, sehingga bagian dalam kapsul akan terekspos ruang hampa udara saat mereka beraktivitas di sana.
Segala kemungkinan tentu bisa terjadi di ruang angkasa. Sekadar kilas balik, Alexei Leonov kosmonaut Rusia, hampir tewas saat melakukan perjalanan luar angkasa pertama pada 1965. Misi lainnya telah menyebabkan kebutaan sementara, hampir tenggelam, dan hampir hilang selamanya di luar angkasa. Pakaian luar angkasa menjadi pelindung utama-ibarat miniatur pesawat ruang angkasa, yang harus tahan terhadap perubahan suhu yang sangat cepat hingga ratusan derajat saat berpindah dari dan ke sinar matahari langsung. Bahkan sobekan atau lubang kecil pada pakaian bisa berakibat fatal.
Dengan segala risikonya, perjalanan ruang angkasa ini pastinya juga memiliki manfaat. Karena Polaris Dawn akan melakukan perjalanan lebih tinggi dari misi sebelumnya, misi ini akan memungkinkan kru melakukan penelitian di lingkungan dengan radiasi tinggi. Mereka bakal mendalami efek penerbangan antariksa pada tubuh manusia dan mengevaluasi bagaimana pelancong antariksa di masa depan dapat mendiagnosis dan merawat diri mereka sendiri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, kru akan dapat merasakan langsung "overview effect" -perasaan kagum luar biasa yang dilaporkan banyak astronot saat melihat keindahan Bumi dari luar angkasa.
Booming bisnis antariksa
Bisnis Antariksa nampaknya kini tengah booming. SpaceX menghasilkan uang dengan meluncurkan satelit Starlink dan mengangkut pasokan serta manusia ke Stasiun Luar Angkasa Internasional, dengan perkiraan pendapatan sebesar $15 miliar (Rp231 triliun) per tahun ini. Blue Origin cuan hasil menjual mesin roket dan memiliki kontrak dengan NASA.
Meski wisata luar angkasa belum tersedia bagi umum, kedua perusahaan ini telah menjual tiket perjalanan ke luar angkasa kepada orang-orang superkaya. Virgin Galactic menawarkan paket penerbangan suborbital seharga US$450.000 (Rp6,93 miliar), sementara penerbangan orbital dipatok seharga US$55 juta (Rp847 miliar). Penerbangan orbital mencapai kecepatan yang cukup tinggi untuk tetap berada di orbit mengelilingi bumi. Sementara penerbangan suborbital membawa penumpang keluar dari atmosfer bumi selama beberapa menit. Setelah itu kembali ke bumi beberapa menit kemudian tanpa berkeliling.
Pasar pariwisata luar angkasa bernilai $750 juta (Rp11,5 triliun) pada 2023 dan diproyeksikan mencapai US$5,2 miliar (Rp80 triliun) dalam dekade mendatang. Kehadiran inovasi roket yang dapat digunakan kembali telah membuat biaya perjalanan turun hingga 10 kali lipat dibandingkan satu dekade lalu.
Agar wisata luar angkasa berkembang lebih jauh, jaminan keselamatan calon wisatawan menjadi hal yang sangat penting-baik dari segi persepsi maupun kenyataan. Banyak pengusaha berharap perjalanan luar angkasa bisa mengikuti jejak penerbangan komersial, yang juga dimulai dengan menarik orang kaya dan para petualang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!