Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Debu Gurun Sahara Menyuburkan Tanaman di Hutan Amazon

📅 Jumat, 06 Sep 2024, 06:10 WIB | Oleh:

Perkiraan pengangkutan debu baru diperoleh dari data yang dikumpulkan oleh instrumen lidar pada satelit Cloud-Aerosol Lidar dan Infrared Pathfinder Satellite Observation (CALIPSO) milik NASA dari tahun 2007 hingga 2013.

Instrumen lidar di atas satelit Cloud-Aerosol Lidar and Infrared Pathfinder Satellite Observations (CALIPSO) mengirimkan denyut cahaya yang memantul dari partikel di atmosfer dan kembali ke satelit. Instrumen ini membedakan debu dari partikel lain berdasarkan sifat optiknya.

Data menunjukkan bahwa angin dan cuaca rata-rata menangkap 182 juta ton debu setiap tahun dan membawanya melewati tepi barat Sahara pada garis bujur 15 bujur barat. Volume ini setara dengan 689.290 truk gandeng yang penuh debu.

Debu kemudian bergerak menempuh jarak 2.574 kilometer melintasi Samudra Atlantik. Sebagian darinya jatuh ke permukaan laut atau tersapu dari langit oleh hujan, sebelum sampai di hutan tropis Amazon.

Di dekat pantai timur Amerika selatan,pada garis bujur 35 barat, 132 juta ton tetap berada di udara, dan 27,7 juta ton cukup untuk mengisi 104.908 truk gandeng jatuh ke permukaan di atas lembah Amazon. Sekitar 43 juta ton debu menempuh jarak lebih jauh dan mengendap di atas Laut Karibia melewati garis bujur 75 barat.

Yu dan rekan-rekannya berfokus pada pengangkutan debu Sahara melintasi Samudra Atlantik ke Amerika selatan dan selanjutnya ke Laut Karibia karena ini merupakan pengangkutan debu terbesar di planet ini. Debu yang dikumpulkan dari Depresi Bodélé dan dari stasiun darat di Barbados dan di Miami memberi para ilmuwan perkiraan proporsi fosfor dalam debu Sahara.

"Perkiraan ini digunakan untuk menghitung berapa banyak fosfor yang mengendap di cekungan Amazon dari pengangkutan debu ini. Dari catatan data tujuh tahun, meskipun terlalu pendek untuk melihat tren jangka panjang, tetap sangat penting untuk memahami bagaimana debu dan aerosol lainnya berperilaku saat bergerak melintasi lautan," kata Chip Trepte, ilmuwan proyek untuk CALIPSO di Pusat Penelitian Langley NASA di Virginia, yang tidak terlibat dalam kedua penelitian tersebut.

"Kita memerlukan catatan pengukuran untuk memahami apakah ada pola yang cukup kuat dan cukup konsisten pada pengangkutan aerosol ini," imbuh dia.

"Melihat data dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa pola tersebut sebenarnya sangat bervariasi. Ada perubahan sebesar 86 persen antara jumlah debu tertinggi yang diangkut pada tahun 2007 dan terendah pada tahun 2011," kata Yu. hay/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

4 Tempat Usaha Don Ritto Mulai Disisir Petugas Kejagung

19 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
4 Tempat Usaha Don Ritto Mu...

Warga Akan Lebih Sehat Bila Tinggal di Rumah yang Layak Huni

23 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Warga Akan Lebih Sehat Bila...

ASN Yang Segera Memasuki Masa Pensiun Perlu Persiapan

28 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
ASN Yang Segera Memasuki Ma...

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

03 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.