Kolonialisme Eropa Hancurkan Hubungan Antar Etnis di Rwanda
📅 Rabu, 04 Sep 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Era Kolonialisme
Pada 1884, berbagai peristiwa di Eropa mengubah arah sejarah Kerajaan Rwanda secara mendalam. Selama konferensi Berlin, tanpa konsultasi apapun dengan rakyat Rwanda, diputuskan negeri itu menjadi bagian dari Kekaisaran Jerman.
Pada 1890, meskipun tidak ada orang Eropa yang pernah mengunjungi negara itu, kerajaan tersebut dimasukkan ke dalam protektorat Jerman di Afrika timur. Dua tahun kemudian, pada 1892, orang Eropa pertama, seorang Jerman bernama Oscar Bauman, memasuki Kerajaan Rwanda.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada 1894 Mwami Kigeri IV Rwabugiri bertemu dengan Kapten Jerman von Götzen. Setahun kemudian Raja Rwanda meninggal dan digantikan oleh putranya yang masih muda Mibambwe IV Rutarindwa. Pemerintahannya hanya berlangsung singkat karena pada tahun yang sama ia digulingkan dalam kudeta berdarah oleh Yuhi V Musinga.
Tentara Jerman kemudian membantu raja baru tersebut meredakan setiap perlawanan di negara tersebut. Dengan meredanya perlawanan pada 1899, Rwanda secara resmi dimasukkan ke dalam wilayah Afrika timur Jerman dan diperintah melalui pemerintahan boneka Raja Musinga.
Dampak dari pemerintahan tidak langsung adalah pembagian penduduk Rwanda. Tujuannya untuk mengalihkan sentimen antikolonial dan kemarahan rakyat terhadap penjajah. Hal ini berdampak besar pada Rwanda pascakolonial karena akan menjadi sumber konflik internal dan kekerasan genosida yang terus-menerus.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, Rwanda hanya menjadi koloni Jerman untuk waktu yang singkat. Dengan kekalahan Kekaisaran Jerman dalam Perang Dunia I, Rwanda diserahkan kepada Belgia sebagai bagian dari mandat Liga Bangsa-Bangsa. Pendudukan kolonial Belgia memiliki dampak yang jauh lebih lama di Rwanda.
Pemerintah kolonial Belgia memperkuat identitas Hutu dan Tutsi ke dalam kategori ras yang permanen dan ditentukan secara biologis. Sebelumnya, identitas ini bersifat cair, yang mana orang-orang dapat masuk dan keluar tergantung pada pekerjaan yang mereka lakukan dan status mereka di masyarakat.
Pemerintah kolonial menjadikannya penanda permanen orang-orang adalah Hutu atau Tutsi dan dilahirkan dalam salah satu dari keduanya. Orang-orang yang dikategorikan sebagai Tutsi kemudian diunggulkan untuk pekerjaan yang paling bergengsi dan dengan jumlah kekuasaan dan pengambilan keputusan yang lebih besar melalui kaum bangsawan dan raja.
Pemerintahan kolonial Belgia membangun opini bahwa Hutu dan Tutsi sebagai dua ras yang berbeda. Hutu adalah orang "Bantu" asli, dan Tutsi adalah penjajah "Hamitik." Pembagian ini menjadi katalisator kekerasan di Rwanda pascakolonial.
Pada tahun 1930, Mwami Musinga dicopot dari kekuasaannya karena perselisihan dengan penjajah Belgia dan digantikan oleh putranya, Rudahigwa. Diperkenalkannya Pengadilan Pribumi pada tahun 1936 akhirnya melucuti hampir semua kekuasaan yudisial Mwami. Pergeseran terakhir ini menyebabkan Mwami kehilangan sebagian besar kekuasaannya, yang pada gilirannya dilimpahkan kepada aristokrasi Tutsi yang setia kepada otoritas kolonial. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!