Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Apakah Homo naledi Mengubur Jenazah Mereka Sendiri?

📅 Rabu, 14 Agu 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Apakah Homo naledi Mengubur Jenazah Mereka Sendiri? Doc: afp/ Luca Sola

Gagasan tentang Homo naledi mengubur mayat sendiri disampaikan oleh tim peneliti. Namun gagasan itu mengandung kontroversi karena volume otak spesies yang telah punah ini cukup kecil yaitu sepertiga ukuran otak ukuran otak manusia modern.

Pada tahun 2023, tim peneliti yang dipimpin oleh paleoantropolog terkenal Lee Berger, seorang National Geographic Explorer in Residence, menerbitkan serangkaian artikel dan membuat film dokumenter Netflix yang mengemukakan beberapa klaim luar biasa.

Mereka mengatakan telah menemukan bukti bahwa spesies manusia purba yang ditemukan pada 2013 dan dikenal dengan nama Homo naledi, telah sengaja mengubur jenazah mereka di dalam sistem gua Rising Star di Afrika Selatan sekitar tahun 250.000 SM lalu.

Lebih jauh, Berger dan tim mengatakan bahwa tanda-tanda ini yang ditemukan di dinding gua dekat sisa-sisa kerangka hominin kuno itu ditinggalkan oleh Homo naledi yang kemungkinan memiliki semacam makna simbolis.

Klaim ini langsung menimbulkan kontroversi, karena selain hidup antara 335.000 dan 236.000 tahun yang lalu, otak Homo naledi tampaknya cukup kecil dengan volumenya hanya sepertiga ukuran otak manusia modern. Jadi wajar saja jika para peneliti mulai menguji gagasan baru tentang kecerdasan yang sangat maju dari spesies manusia purba ini karena hal ini dinilai sebagai penyimpangan besar dari konsensus saat ini tentang Homo naledi.

Dalam sebuah artikel yang baru saja diterbitkan dalam jurnal PaleoAnthropology menolak gagasan tersebut. Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh profesor antropologi Universitas George Mason, Kimberly Foecke, melaporkan bahwa mereka tidak menemukan bukti berarti yang menunjukkan bahwa Homo naledi benar-benar menguburkan mayat dari mereka yang telah mati.

Mereka mengatakan bahwa penelitian yang dilakukan oleh Lee Berger dan rekan-rekannya itu cacat. Ia dinilai bertindak gegabah dengan mengumumkan hipotesisnya yang menakjubkan itu ke publik tanpa peninjauan dari rekan sejawat.

Menurut jurnalis Natahn Falde dalam tulisannya di Ancient Origins, yang awalnya memicu pengawasan ketat dari rekan-rekan mereka di komunitas antropologi adalah cara Berger dan timnya memilih untuk memperkenalkan teori mereka. Alih-alih mengirimkan karya mereka ke jurnal yang ditinjau sejawat, mereka memilih untuk menerbitkan artikel mereka tanpa tinjauan sejawat dalam jurnal akses terbuka yang dikenal sebagai eLife.

Model eLife memungkinkan para akademisi dan ilmuwan menerbitkan penelitian dalam bentuk yang dikenal sebagai bentuk pracetak, setelah itu peneliti lain diundang untuk menyampaikan pendapat mereka tentang kualitas dan kesimpulan dari karya tersebut. Para peneliti asli diharapkan menggunakan umpan balik ini untuk menyempurnakan, memodifikasi, atau mengubah studi dan kesimpulan mereka, dan kemudian mengirimkan karya yang telah diedit dan direvisi ke jurnal peer-review yang sebenarnya.

Dalam kasus ini, daripada menunggu untuk melalui proses tersebut, tim Berger segera menindaklanjuti artikel pracetak mereka dengan film dokumenter Netflix berjudul Unknown: Cave of Bones yang menyajikan teori tim kepada publik sebagai fakta yang mapan. Mereka melengkapi film dokumenter tersebut dengan kampanye publisitas yang ekstensif demi memastikan bahwa ide-ide mereka akan menjadi lebih dikenal luas.

Namun dalam artikel PaleoAnthropology yang baru diterbitkan, Foecke dan rekan-rekannya menyajikan bukti untuk menunjukkan bahwa metodologi yang diandalkan tim Berger untuk mencapai kesimpulan mereka yang menakjubkan itu cacat.

Pengujian Sedimen

Untuk menyelidiki apakah beberapa kerangka Homo naledi yang ditemukan di ruang Dinaldi di sistem gua Rising Star pernah dikubur di suatu titik, Berger dan kelompoknya melakukan studi ekstensif terhadap sedimen lantai gua yang mengelilingi tulang-tulang yang telah menjadi fosil.

Salah satu metode yang mereka gunakan untuk menyelesaikan pekerjaan ini dikenal sebagai fluoresensi sinar-X (XRF), yang memerlukan pemboman sampel tanah dengan aliran sinar-X yang akan mengungkap komposisi kimianya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...

Operasi uji emisi kendaraan di Tangerang

59 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Nasional
Pelaksanaan program penghap...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.